Sherly Maya Maulidina
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Untirta
SECARA etimologi, kata otoriter berasal dari bahasa Latin auctoritas yang artinya wibawa,
kuasa, pengaruh, dan otoritas. Istilah dalam bahasa Inggris mengatakan otoriter adalah
authoritarian.
Suatu pendirian yang berpegang pada kekuasaan dan wibawa yang sifatnya
memaksa atau yang biasa disebut paham otoriter bisa juga dikenal dengan sebutan
otoritarianisme.
Sistem politik otoriter menjadi salah satu sistem politik dengan gaya
kepemimpinan yag menarik untuk ditelusuri. Seperti yang banyak diketahui, otoriter adalah
tindakan atau kemauan diri atas seseorang saja dan dari hal tersebut, semua pemikiran dan
perintahnya harus dipandang benar serta dituruti oleh siapapun yang berada dibawah
kedudukannya.
Dengan otoritas itu, oknum tersebut dapat memengaruhi pendapat, pemikiran,
gagasan, dan perilaku seseorang. Otoriter terkenal menjadi salah satu gaya kepemimpinan di dunia atau yang biasa dikenal otokratis. Gaya kepemimpinan otoriter cenderung memaksa patuh dengan mutlak.
Biasanya pemimpin kekuasaan otoriter hanya memeusatkan kekuasaan penuh pada pemimpinnya saja,
sedangkan bawahan, anggota, atau rakyat tidak diberikan hak andil dalam memberikan
pendapatnya atau kebebasan untuk menentukan tujuan untuk dirinya sendiri. Dalam
pemerintahan otoriter, seringkali informasi pemerintahan ditutup-tutupi atau dikontrol secara
ketat, yang dapat mengarah pada ketidakjelasan dan potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam hal ini, pertahanan keamanan sering dijadikan sebagai alat bagi para penguasa untuk melindungi
dan mempertahanan kedudukannya. Politik otoriter di beberapa negara yang memang sudah menggunakan sistem tersebut mungkin akan bisa cocok dan bahkan membuat negara tersebut berkembang, namun ada kalanya sistem otoriter ini tidak berjalan dan malah membuat suatu negara berantakan.
Contohnya Korea Utara, negara tersebut merupakan salah satu negara yang terkenal dengan politiknya yang otoriter sampai sekarang ditengah perkembangan zaman dan teknologi. Korea Utara sebagai
negara yang tertutup dari dunia, namun tak dapat dipungkiri juga negara ini dalam bidang
keamanan dan nuklir menduduki peringkat teratas serta hal tersebut telah diakui oleh dunia.
Namun lain halnya dengan negara yang menolak terlaksananya sistem politik otoriter ini, seperti
di Indonesia. Indonesia ialah negara demokratis dan berideologi pancasila, tetapi pada masanya
negara ini sempat terbelenggu oleh rezim ‘otoriter’ Orde Baru. Orde Baru menyisakan kisah
yang tidak diinginkan terulang bagi bangsa.
Orde Baru dimulai pada tahun 1966-1998, berakhir dengan suasana ricuh dan pilu yang pada saat itu Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Beberapa alasan mengapa Presiden Soeharto dituntut untuk mengakhiri jabatan tersebut yang sudah berlangsung selama kurang lebih 32 tahun lamanya itu tak dapat dipungkiri karena rakyat merasa negara telah terkikis oleh rezim tersebut.
Rakyat resah melihat keadaan negara yang kian hari kian menjauh dari definisi demokrasi. Akses bersuara terbatas, pemerintahan yang tidak transparan, pers yang dibungkam, dijadikannya rakyat boneka
pemerintahan di Orde Baru. Hal ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia tidak bisa bersatu
dengan sistem politik ini karena lebih banyak kekurangan dibanding kelebihannya, walaupun
membutuhkan waktu 32 tahun untuk lepas dari sistem ‘otoriter’ tersebut. Sistem Politik sejatinya milik hak bersama, pemerintah dan rakyat harus ikut serta dalam mensejahterakan apapun sistem politiknya. (*)

Discussion about this post