Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Seminar Imadiklus, Indonesia Sudah Surplus Guru

by Panji Romadhon
Mei 3, 2020
in PENDIDIKAN, PILIHAN REDAKSI
Tangkapan Layar Guru besar Universitas Negeri Jakarta, Hafid Abbas saat sedang memaparkan materi dalam seminar daring Imadiklus (2/5)

Tangkapan Layar Guru besar Universitas Negeri Jakarta, Hafid Abbas saat sedang memaparkan materi dalam seminar daring Imadiklus (2/5)

JAKARTA, BANPOS – Kondisi pendidikan di Indonesia dirasa masih belum ideal. Mulai dari segi kebijakan, perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan ditingkat lembaga pendidikan. Bahkan disebutkan bahwa secara standar internasional, Indonesia sudah mengalami kondisi surplus guru.

Hal tersebut menyeruak dalam seminar nasional daring yang dilaksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah se-Indonesia (Imadiklus) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2020.

Baca Juga

Implementasikan Tri Dharma, Uniba Perkuat Kolaborasi Jabal Ghafur

Implementasikan Tri Dharma, Uniba Perkuat Kolaborasi Jabal Ghafur

Januari 8, 2026
Legislator Banten Soroti Ketimpangan Sarana dan Prasarana Sekolah Swasta

Legislator Banten Soroti Ketimpangan Sarana dan Prasarana Sekolah Swasta

Desember 17, 2025
Pelajar Banten Raih Golden Ticket Rohis

Pelajar Banten Raih Golden Ticket Rohis

November 17, 2025
Bupati Tangerang Dorong Transisi Prasekolah ke SD, Wajib Belajar 13 Tahun Menjadi Fokus

Bupati Tangerang Dorong Transisi Prasekolah ke SD, Wajib Belajar 13 Tahun Menjadi Fokus

November 7, 2025

Guru besar Universitas Negeri Jakarta, Hafid Abbas memaparkan, adanya beberapa kebijakan yang tidak sinkron dengan hasil yang diharapkan. Dengan berdasarkan hal tersebut, ia merasa kondisi ini akan mengancam dunia pendidikan kedepannya.

Ia memberi contoh, besarnya anggaran pendidikan, akan tetapi dirasa justru mutu pendidikan semakin merosot.

“Kedua, meningkatnya anggaran sertifikasi guru tapi dampaknya terhadap dunia pendidikan belum terlihat,” paparnya.

Ia juga mengklaim, jumlah guru di Indonesia secara standar internasional sudah dapat dinyatakan surplus, atau berlebih.

“Selain itu, masih ada 88.8 persen dari sekitar 220 ribu sekolah SD hingga SMA/SMK yang belum melewati standar minimal dan hanya 0.65 persen yang berstandar Internasional,” jelas Ketua Senat UNJ tersebut.

Mantan Ketua Komnas HAM ini menegaskan, hal yang harus pertama kali dibenahi adalah terkait standar pendidikan yang dirasa menjadi induk masalah carut marutnya dunia pendidikan saat ini.

Selain itu, ia menuding bahwa pendidikan terus terbelenggu dalam intervensi politik, baik di pusat maupun di daerah. Hal ini dikarenakan, profesionalisme beberapa pimpinan yang mengurusi bidang pendidikan diragukan. Baik dari latar belakang secara akademis, maupun rekam jejaknya.

“Misalnya ada Kepala Dinas Pendidikan yang berasal dari urusan pemakaman, ada pula dari urusan pasar, dan sebagainya. Ini bertentangan dengan Konvensi UNESCO dan ILO (1966) yang mensyaratkan bahwa urusan pendidikan diprioritaskan kepada mereka yang mengerti pendidikan dan berpengalaman menjadi guru,” terangnya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga terlihat di jenjang pendidikan tinggi. Diantara 4.715 institusi pendidikan tinggi di seluruh Indonesia, hanya 96 PT yang berakreditasi A. Sehingga menurutnya, hal ini menyebabkan kebijakan kampus merdeka dan merdeka belajar menjadi sulit diterapkan.

“Semestinya, kebijakan merdeka belajar dan kampus merdeka dilakukan jika, seluruh sekolah dan seluruh perguruan tinggi sudah melewati standar minimal. Inilah tugas kementerian untuk bekerja semaksimalnya dengan anggaran yang ada untuk meingkatkan standar akreditasi tersebut,” terangnya.

Dalam seminar tersebut, Hafid juga mengungkapkan bahwa sebaiknya setiap kebijakan yang diambil oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dilakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu, agar dapat berbasis bukti (evidence base).
“Tanpa penelitian itu, kebijakan yang diambil sama seperti mengobati pasien tanpa mengerti penyakitnya,” tandasnya.(PBN)

Tags: HardiknasImadikluspendidikanSeminar
ShareTweetSend

Berita Terkait

Implementasikan Tri Dharma, Uniba Perkuat Kolaborasi Jabal Ghafur
PENDIDIKAN

Implementasikan Tri Dharma, Uniba Perkuat Kolaborasi Jabal Ghafur

Januari 8, 2026
Legislator Banten Soroti Ketimpangan Sarana dan Prasarana Sekolah Swasta
PERISTIWA

Legislator Banten Soroti Ketimpangan Sarana dan Prasarana Sekolah Swasta

Desember 17, 2025
Pelajar Banten Raih Golden Ticket Rohis
NASIONAL

Pelajar Banten Raih Golden Ticket Rohis

November 17, 2025
Bupati Tangerang Dorong Transisi Prasekolah ke SD, Wajib Belajar 13 Tahun Menjadi Fokus
INTERNASIONAL

Bupati Tangerang Dorong Transisi Prasekolah ke SD, Wajib Belajar 13 Tahun Menjadi Fokus

November 7, 2025
Layanan Kesehatan, Bansos, dan Pendidikan Tak Terganggu Meski APBD DKI 2026 Dipotong Rp14,1 Triliun
NASIONAL

Layanan Kesehatan, Bansos, dan Pendidikan Tak Terganggu Meski APBD DKI 2026 Dipotong Rp14,1 Triliun

Oktober 23, 2025
UIN Jakarta Komitmen Jadi Pusat Pengembangan Gagasan Pendidikan
PENDIDIKAN

UIN Jakarta Komitmen Jadi Pusat Pengembangan Gagasan Pendidikan

Agustus 20, 2025
Next Post

Pegawai Untirta Terkonfirmasi Pasien Positif

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh