CILEGON, BANPOS – DPC Gerindra Kota Cilegon bergerak cepat membenahi rumah tidak layak huni milik seorang janda di Cibeber. “Langkah ini merupakan instruksi langsung pusat untuk menyentuh lapisan masyarakat bawah,” tegas Ketua DPC Gerindra Cilegon, Helldy Agustian.
Pasalnya, Syafiah sudah puluhan tahun bertahan hidup di rumah bocor dan rawan banjir tanpa fasilitas sanitasi dasar. “Ibu Syafiah sering kebanjiran, rumahnya bocor, dan mirisnya tidak punya WC,” ujar Helldy saat meninjau lokasi, Kamis (29/1).
Terlebih lagi, Helldy mendapati fakta bahwa kerusakan hunian di Lingkungan Seruni tersebut jauh lebih parah dari laporan awal. “Kami memutuskan menambah perbaikan supaya hunian ini lebih layak dan aman,” tambahnya sambil menunjukkan bagian atap rapuh.
Sebaliknya, program bedah rumah ini menjadi kado nyata dalam momentum peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra di Cilegon. “Gerindra dibantu masyarakat sekitar akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas,” cetus mantan Walikota Cilegon tersebut dengan nada optimis.
Komitmen Pendanaan Tanpa Batas Anggaran
Namun, partai besutan Prabowo Subianto ini tidak mematok nilai anggaran kaku demi menjamin kualitas renovasi bangunan tersebut. “Semua biaya perbaikan rumah sampai selesai partai Gerindra tanggung,” tegas Sekretaris DPC Gerindra Kota Cilegon, Hasbi Sidik.
Bahkan, Hasbi menekankan bahwa fleksibilitas anggaran bertujuan memastikan hunian memenuhi standar kesehatan yang layak bagi penghuninya. “Intinya tidak kita batasi anggarannya agar hasilnya benar-benar maksimal,” ungkapnya saat mendampingi peninjauan di lapangan Kedaleman.
Selain itu, pihak partai mengharapkan program ini mampu memicu semangat gotong royong warga dalam membantu proses pengerjaan. “Kami ingin langkah ini memberikan manfaat luas dan menjaga nilai kebersamaan lingkungan,” tuturnya penuh harap kepada warga.
Alhasil, aksi nyata tersebut menjadi bukti konkret visi partai yang harus memberikan dampak langsung bagi rakyat kecil. “Kami memprioritaskan keamanan dan kesehatan penghuni sebagai bentuk tanggung jawab sosial,” tandas Hasbi menutup penjelasan teknis.
Penantian Panjang Janda Selama Puluhan Tahun
Sementara itu, Syafiah mengaku sangat bersyukur karena doa panjangnya untuk memiliki rumah layak akhirnya mendapat jawaban pasti. “Alhamdulillah saya sangat senang karena bantuan ini akhirnya datang juga,” ucap Syafiah dengan nada suara bergetar haru.
Justru, ia sempat merasa pupus harapan setelah pengajuan proposal bantuan ke pemerintah sebelumnya tidak kunjung mendapat respon. “Sebelumnya pernah mengajukan ke pemerintah tapi tidak kunjung dilakukan perbaikan,” ungkapnya menceritakan pengalaman pahit masa lalu.
Kemudian, Syafiah menceritakan penderitaannya yang terpaksa menumpang ke fasilitas umum terminal hanya untuk kebutuhan buang hajat. “Sekitar 25 tahun saya tidak punya WC dan harus ke terminal,” akunya mengenai kondisi sanitasi yang memprihatinkan.
Akhirnya, pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) di dalam rumah menjadi hal yang paling ia syukuri saat ini. “Kini saya tidak perlu lagi berjalan jauh ke terminal saat malam hari,” pungkasnya sambil menyeka air mata bahagia. (*)

Discussion about this post