BANDUNGBARAT, BANPOS – Operasi kemanusiaan Longsor Cisarua di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, memasuki fase paling krusial pada hari keempat ini. Tim SAR gabungan bekerja ekstra keras mengevakuasi puluhan kantong jenazah dari timbunan material tanah yang sangat tebal.
“Kami menemukan delapan kantong jenazah baru pada pencarian hari keempat ini,” ungkap Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian.
Selanjutnya, petugas mencatat total temuan mencapai 48 kantong jenazah sejak operasi pencarian hari pertama dimulai. Namun, sebanyak 33 orang warga setempat hingga saat ini masih dinyatakan hilang tertimbun material longsoran.
“Tim menyerahkan seluruh jenazah kepada Tim DVI untuk proses identifikasi lebih lanjut,” tegas Ade Dian kepada wartawan.
Sementara itu, fokus pencarian kini bergeser menuju sektor B2 yang memiliki konsentrasi bangunan rumah warga terbanyak. Akan tetapi, kondisi cuaca ekstrem di lokasi bencana seringkali menghambat pergerakan alat berat milik petugas lapangan.
“Kami mengevaluasi bahwa banyak bangunan rumah tertimbun di sektor tersebut,” jelas Ade Dian saat meninjau lokasi.
Lebih lanjut, kontur tanah yang tidak stabil memaksa seluruh tim lapangan bekerja dengan tingkat kewaspadaan sangat tinggi. Bahkan, pergerakan tanah susulan sering terjadi ketika petugas mengangkat material longsor di beberapa titik evakuasi.
“Tantangan terbesar evakuasi adalah faktor alam dan kontur tanah yang sangat labil,” ujar Direktur Operasi Basarnas, Bramantyo.
Kemudian, Bramantyo menambahkan bahwa tanah sering bergeser kembali saat tim mulai membongkar satu bagian reruntuhan bangunan. Sebaliknya, duka mendalam juga menyelimuti institusi TNI Angkatan Laut akibat musibah yang melanda prajurit terbaik mereka.
“Sebanyak 23 anggota Marinir turut tertimbun longsor saat menjalankan tugas,” ucap Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali.
Identifikasi Jenazah dan Rencana Relokasi Warga Penyintas Longsor Cisarua
Selain itu, empat prajurit Marinir telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah pencarian intensif selama empat hari. Padahal, para prajurit tersebut sedang melakukan latihan intensif untuk persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Papua.
“Personel lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan,” tambah Laksamana Muhammad Ali.
Guna mempercepat proses evakuasi, TNI AL mengerahkan 200 personel tambahan menuju lokasi bencana di Cisarua tersebut. Ditambah lagi, penggunaan teknologi drone termal dan anjing pelacak K9 menjadi tumpuan utama untuk mendeteksi keberadaan korban.
“Kami berkomitmen mengerahkan segala daya guna menemukan seluruh korban yang hilang,” tegas Muhammad Ali kembali.
Di tempat lain, proses identifikasi pada pos DVI Polda Jabar terus berpacu melawan keterbatasan waktu yang ada. Akhirnya, sebanyak 30 jenazah telah berhasil teridentifikasi melalui prosedur rekonsiliasi data ante-mortem dan post-mortem secara akurat.
“Polda Jabar telah menyerahkan 30 jenazah teridentifikasi kepada pihak keluarga korban,” jelas Kabid Humas, Kombes Hendra Rochmawan.
Meskipun demikian, polisi memastikan seluruh sumber daya tetap bekerja maksimal agar keluarga korban segera mendapat kepastian informasi. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai merancang rencana relokasi permanen bagi para penyintas longsor.
“Kami sedang menunggu hasil pengkajian teknis dari pihak Badan Geologi,” tutur Wakil Bupati, Asep Ismail.
Oleh karena itu, pemerintah daerah menegaskan bahwa wilayah terdampak bencana tidak akan lagi menjadi area pemukiman warga. Faktanya, kawasan tersebut bakal beralih fungsi menjadi hutan lindung sesuai dengan arahan resmi dari Gubernur Jawa Barat.
“Rapat koordinasi bersama dinas terkait segera terlaksana setelah kajian geologi rampung,” tegas Asep Ismail dengan serius.
Pada akhirnya, penetapan radius aman menjadi langkah jangka pendek guna mencegah warga kembali memasuki zona bahaya tersebut. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat kesalahan dalam menempatkan hunian masyarakat.
“Kajian mendalam ini bertujuan agar pemerintah tidak salah lagi menempatkan warga,” pungkas Asep Ismail menutup pembicaraan. (*)

Discussion about this post