TANGERANG, BANPOS – Sejumlah mahasiswa Universitas Esa Unggul Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Hubungan Masyarakat berhasil menciptakan inovasi pembersih lantai dalam bentuk tablet sebagai solusi atas pemborosan penggunaan cairan pembersih konvensional.
Inovasi yang mengadopsi teknologi farmasi ini bertujuan untuk menyederhanakan cara kerja pembersihan rumah tangga sekaligus menekan limbah plastik secara signifikan.
Inovasi itu diciptakan oleh Elka Dwiyana, Angeline, Nadya Putri Yusrianti dan Aditya Hari Saputra, yang menyalurkan ide kreatifnya sehingga tercetus inovasi tersebut.
Salah satu anggota dari kelompok tersebut, Elka Dwiyana, mengungkapkan bahwa ide ini muncul dari pengamatan terhadap perilaku sehari-hari masyarakat yang sering kesulitan mengukur takaran cairan pembersih.
“Banyak pengguna menuang cairan tanpa takaran pasti, sehingga pemakaian menjadi boros dan tidak konsisten. Selain itu, risiko tumpah dan limbah botol plastik yang berulang menjadi masalah yang sering dianggap sepele namun berdampak besar,” ujarnya pada saat dikonfirmasi oleh BANPOS pada Jumat (9/1).
Adopsi Konsep Farmasi
Berbeda dengan produk di pasaran, inovasi ini memadatkan bahan aktif pembersih ke dalam ukuran kecil namun tetap fungsional.
Teknik ini meminjam konsep tablet farmasi, di mana konsentrasi tinggi bahan aktif dipadatkan agar mudah didistribusikan tanpa memerlukan kemasan botol plastik yang besar.
Secara teknis, tim memastikan satu tablet kecil tersebut memiliki kekuatan pembersihan yang setara dengan 100 ml cairan biasa.
“Kami memusatkan fungsi pembersihan dalam bentuk padat. Tablet dirancang untuk larut secara bertahap sehingga kandungannya bekerja stabil dalam air, bukan hilang secara instan,” tambahnya.
Dalam proses pengembangannya, tim mengaku sempat menghadapi keraguan terkait stabilitas produk.
Ide menjadikan pembersih lantai dalam format tablet sempat dianggap mustahil karena stigma produk kebersihan yang identik dengan cairan.
Namun, melalui serangkaian eksperimen formulasi, tim berhasil menciptakan tablet yang kokoh namun mudah larut saat digunakan.

Inovasi ini diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih sadar akan efisiensi (tepat guna).
Selain lebih ringkas untuk penyimpanan di ruang terbatas, produk ini mendorong masyarakat untuk meninggalkan budaya penggunaan deterjen berlebih yang merusak lingkungan.
Inovasi ini membuktikan bahwa mahasiswa Hubungan Masyarakat (Humas) tidak hanya piawai dalam berkomunikasi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata melalui produk.
Melalui inovasi ini, Elka dan timnya mengajak generasi muda untuk mempraktikkan creative thinking melihat celah dalam rutinitas yang membosankan dan mengubahnya menjadi solusi yang berkelanjutan.
“Inovasi tidak selalu berangkat dari teknologi yang rumit, tetapi dari keberanian mempertanyakan hal-hal yang sudah dianggap biasa,” tandasnya. (*)




Discussion about this post