JAKARTA, BANPOS – Di tengah mayoritas bursa saham Asia yang menguat menjelang libur akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru bergerak berlawanan arah. Pada penutupan perdagangan Selasa (23/12), IHSG terkoreksi cukup dalam dan menjadi indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
IHSG ditutup melemah 61,06 poin atau 0,71 persen ke level 8.584,78. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat membangun momentum positif di awal pekan, namun akhirnya tertekan oleh aksi jual investor.
Kondisi tersebut kontras dengan pergerakan bursa regional. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,81 persen, sementara Indeks VN Vietnam naik 1,21 persen. Perbedaan kinerja ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar domestik, khususnya investor ritel dari kalangan milenial dan Gen Z yang kian mendominasi transaksi di pasar saham.
Meski indeks melemah, likuiditas pasar terpantau tinggi. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp24,49 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 41,56 miliar saham. Tingginya aktivitas ini menunjukkan terjadinya pertukaran kepemilikan saham yang agresif, baik oleh investor institusi maupun ritel.
Tiga saham mencatatkan aktivitas transaksi terbesar, yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). Pergerakan ketiganya mencerminkan tingginya volatilitas pasar menjelang akhir tahun 2025.
BUMI menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp3,23 triliun. Namun, tingginya transaksi tersebut diiringi tekanan jual, sehingga harga saham BUMI ditutup melemah 3,55 persen. Volatilitas saham emiten tambang ini masih dipengaruhi fluktuasi harga komoditas energi global.
Sementara itu, tekanan paling besar dialami saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). Bank digital yang berada dalam ekosistem Grup Emtek tersebut mencatatkan nilai transaksi Rp963,53 miliar, namun harga sahamnya anjlok 14,76 persen. Penurunan ini melanjutkan tren negatif setelah sebelumnya saham SUPA sempat menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB).
Di sisi lain, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) justru melesat dan menjadi penopang di tengah pelemahan pasar. Saham perusahaan infrastruktur telekomunikasi ini melonjak 24,82 persen dengan nilai transaksi Rp1,19 triliun. Kenaikan tersebut didorong sentimen aksi korporasi terkait rencana penawaran saham baru atau rights issue.
Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipicu meningkatnya ketidakpastian global menjelang pergantian tahun. Selain itu, pasar domestik dinilai minim katalis positif baru yang mampu mendorong penguatan indeks.
Dalam kondisi tersebut, investor cenderung bersikap wait and see serta melakukan aksi ambil untung untuk mengamankan likuiditas menjelang libur panjang akhir tahun.
Secara keseluruhan, tekanan jual masih mendominasi perdagangan. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 275 saham menguat, 373 saham melemah, dan 157 saham stagnan. (*)











Discussion about this post