JAKARTA, BANPOS – Euforia pasar modal Indonesia kembali memanas pada penghujung tahun 2025 ini lewat kehadiran emiten baru di sektor barang konsumen non-primer.
Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), emiten yang bergerak di industri pengolahan sarang burung walet, sukses mencuri panggung utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan performa harga yang fantastis.
Tidak tanggung-tanggung, saham ini mencatatkan kenaikan hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data perdagangan pada penutupan Rabu (10/12/2025), saham RLCO kembali menunjukkan taringnya.
Sejak awal sesi pembukaan, harga saham emiten ini langsung melesat 24,8 persen dan mengunci posisi di level Rp352 per saham.
Kenaikan drastis pada hari ketiga ini mengakumulasikan total penguatan harga saham RLCO menjadi 109,5 persen sejak melantai perdana (listing) pada 8 Desember 2025 lalu.
Lonjakan harga yang signifikan ini menjadi sorotan para pelaku pasar, terutama di kalangan investor ritel muda yang mendominasi demografi investor saat ini.
Animo pasar terhadap saham RLCO terlihat sangat luar biasa dan mencerminkan tingginya likuiditas yang tertahan di antrean beli.
Sepanjang perdagangan hari Rabu tersebut, tercatat hanya sekitar 17 ribu lot saham yang berhasil diperjualbelikan.
Jika dikonversi ke dalam nilai rupiah, total transaksi yang terjadi (turnover) relatif kecil, yakni hanya sebesar Rp622 juta.
Namun, angka transaksi yang minim tersebut bukan disebabkan oleh sepinya peminat, melainkan karena tidak adanya barang yang dilepas oleh pemegang saham mayoritas maupun investor yang menahan barangnya.
Hal ini terbukti dari “tembok” antrean beli (bid) yang sangat tebal. Total antrean beli tercatat berada di kisaran 5 juta lot.
Secara valuasi, nilai uang yang mengantre dan siap menampung saham RLCO mencapai lebih dari Rp200 miliar.
Ketimpangan antara suplai yang minim dan permintaan yang membludak inilah yang membuat harga saham terkunci di zona ARA tanpa perlawanan.
Melihat lebih dalam pada data broker summary (broxsum), terjadi pola distribusi dan akumulasi yang menarik untuk dicermati oleh para trader.
Investor ritel yang menggunakan aplikasi sekuritas online populer terlihat mendominasi sisi penjualan atau profit taking.
Broker-broker seperti Stockbit Sekuritas (kode broker: XL), Ajaib Sekuritas (XC), dan Indopremier Sekuritas (PD) tercatat sebagai pihak yang paling banyak melepas saham.
Aksi ini wajar dilakukan oleh ritel yang merasa sudah cukup puas dengan keuntungan (cuan) ratusan persen dalam waktu singkat.
Sebaliknya, di sisi pembelian, dominasi dipegang oleh dua broker yang kerap diasosiasikan dengan pelaku pasar bermodal besar atau market maker.
Semesta Indovest Sekuritas (MG) dan Erdikha Elit Sekuritas (AO) menjadi penampung utama saham-saham yang dilepas oleh ritel tersebut.
Pola perpindahan kepemilikan dari ritel ke broker-broker tertentu ini sering kali menjadi sinyal yang diperhatikan secara teknikal oleh para analis pasar modal dalam memprediksi tren harga selanjutnya.
Fenomena kelangkaan saham RLCO di pasar sekunder sebenarnya sudah terprediksi sejak masa penawaran umum perdana.
RLCO berhasil memecahkan rekor IPO dengan jumlah partisipasi investor yang fantastis, yakni lebih dari 775 ribu investor turut serta dalam pemesanan saham ini.
Tingginya minat masyarakat tercermin dari tingkat kelebihan permintaan atau oversubscribed yang menembus angka 948 kali pada fase penjatahan terpusat (pooling allotment).
Angka oversubscribed yang hampir menyentuh 1.000 kali ini berdampak langsung pada jumlah saham yang didapatkan oleh investor.
Para investor ritel yang mengikuti pooling allotment harus gigit jari karena rata-rata hanya mendapatkan penjatahan 1 hingga 2 lot saja.
Sementara itu, investor dengan modal lebih besar yang berpartisipasi lewat penjatahan non-ritel dengan nominal pesanan di atas Rp100 juta, hanya memperoleh porsi yang sangat tipis, yakni sekitar 0,1 hingga 0,2 persen dari total nilai pemesanan yang mereka ajukan.
Kondisi ini menciptakan efek kelangkaan atau scarcity yang berlanjut hingga ke pasar reguler.
Dari sisi fundamental dan korporasi, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk berhasil mengamankan dana segar hasil penawaran umum sebesar Rp105 miliar.
Angka ini merupakan target tertinggi yang dibidik oleh perseroan dalam prospektusnya. Manajemen RLCO menegaskan komitmennya untuk menggunakan dana tersebut guna ekspansi bisnis.
Bagi perusahaan, langkah IPO ini merupakan tonggak penting dalam transformasi dari pemain komoditas menjadi pelaku industri bernilai tambah. (*)


Discussion about this post