JAKARTA, BANPOS – Ekonom Universitas Indonesia (UI) menilai, proyek-proyek infrastruktur bisa memberikan ruang investasi yang semakin besar untuk menggenjot perekonomian.
Jahen Fachrul Rezki, Associate Director, Head of Macro, Financial & Political Economy LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki mengatakan, di tengah pergeseran tren pertumbuhan ekonomi global ke kawasan Asia, Indonesia bisa mengambil peran sebagai katalis investasi.
Sebab, semakin besar investasi yang masuk, maka semakin besar pula daya ungkit untuk menggenjot perekonomian.
Jahen menyoroti peran krusial lembaga investasi seperti Indonesian Investment Authority (INA) yang dinilai berperan penting.
Ia menilai INA bisa membuka peluang masuknya investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. “Peranannya [INA] sangat besar,” katanya.
INA selama ini dikenal memiliki sejumlah portofolio investasi di proyek-proyek infrastruktur strategis.
Misalnya, Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT).
Laporan LPEM UI yang diterbitkan pada November 2025 menunjukkan ruas tol BTB memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.
Ruas tol sepanjang 141 kilometer ini diperkirakan berkontribusi hingga Rp400 triliun terhadap PDB Indonesia dan menciptakan 20.000 lapangan pekerjaan selama periode konsesi.
Tidak hanya itu, ruas tol ini memangkas waktu tempuh Bandar Lampung-Bakauheni dari sebelumnya 5 jam menjadi hanya 2 jam. Hasilnya berupa penghematan sebesar Rp 170 triliun dan berkontribusi pada penurunan biaya logistik nasional.
Sementara itu, Pelabuhan Belawan diperkirakan menciptakan nilai tambah sekitar Rp 82 triliun selama periode konstruksi dan operasional pada 2016-2072. Selain itu, fasilitas ini juga menciptakan 4.400 lapangan kerja setiap tahun di Indonesia.
“Data yang disajikan oleh LPEM UI menegaskan bahwa ketika investasi dirancang dengan tata kelola yang kuat dan selaras dengan prioritas nasional, dampaknya dapat melampaui angka di neraca keuangan, memperkuat konektivitas, efisiensi, dan daya saing di seluruh Indonesia,” ujar Ketua Dewan Direktur INA, Ridha Wirakusumah.
Meskipun sudah memiliki banyak portofolio menarik, Jahen menilai arah portofolio INA masih bisa dikembangkan ke sektor yang lebih luas.
Ia menilai, INA perlu masuk ke sektor-sektor yang memiliki multiplier yang besar dan juga penting tidak hanya buat ekonomi, tetapi juga kegiatan masyarakat. “Misalnya kesehatan, teknologi, dan logistik,” ucapnya. (*)

Discussion about this post