SERANG, BANPOS – Di tengah hiruk‐pikuk aktivitas perkantoran, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) perlahan menjelma menjadi ruang publik yang hidup. Setiap akhir pekan, ratusan warga dari Serang hingga luar daerah datang sekadar untuk menikmati udara segar, jogging, atau berfoto di antara gedung‐gedung megah yang berdiri tegak di pusat pemerintahan provinsi ini. Meski bukan kawasan wisata resmi, magnet KP3B sebagai ruang rekreasi keluarga kian terasa dari hari ke hari.
Suasana itu terlihat pada Minggu pagi. Di Taman Badak, yang berlokasi tidak jauh dari gerbang utama KP3B, beberapa keluarga tampak piknik sederhana, sementara anak‐anak berlarian di area taman. Di sisi lain, komunitas lari memanfaatkan jalan lebar yang mengelilingi kawasan untuk latihan rutin. Deretan gedung modern—dari kantor dinas hingga gedung gubernur—menjadi latar foto favorit para pengunjung muda.
“Tempatnya nyaman, bersih, dan aman. Kalau pagi atau sore, udaranya enak sekali buat jalan‐jalan,” ujar Rizal (32), warga Kota Serang yang hampir tiap pekan mengajak istri dan anaknya menghabiskan waktu di KP3B. Ia mengaku kawasan ini menawarkan alternatif rekreasi murah di tengah minimnya taman kota yang luas di wilayah sekitar.
“Anak saya senang main sepeda di sini, jalannya kan lebar dan nggak terlalu ramai kendaraan kalau weekend,” tambahnya.
Daya tarik KP3B bukan hanya nuansa ruang terbukanya. Masjid Raya Al‐Bantani yang berdiri megah di tengah kawasan sering menjadi tujuan wisata religi. Arsitekturnya yang kokoh dan modern membuat masjid ini banyak dikunjungi jemaah luar kota, terutama saat libur panjang.
Salah satu pengunjung, Siti Maryam (41), warga Pandeglang, sengaja datang bersama suami dan dua putrinya untuk berwisata ringan. “Biasanya kalau ke Serang kami langsung ke mal. Tapi kali ini anak-anak minta ke KP3B. Ternyata bagus juga buat keluarga. Bisa foto-foto, main di taman, terus salat di masjidnya yang besar itu,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah semakin menata kawasan ini, terutama menyediakan ruang bermain anak dan area kuliner yang terpusat. “Kalau ada taman tematik atau food court resmi, yang buka diakhir pekan, pasti lebih ramai lagi. Potensinya besar banget,” katanya.
Memang, potensi KP3B sebagai ruang wisata perkotaan cukup besar. Selain memiliki ruang terbuka hijau, kawasan ini juga kerap menjadi lokasi penyelenggaraan acara publik seperti festival UMKM, lari massal, hingga kegiatan komunitas. Infrastruktur yang tertata rapi dan area parkir yang luas turut mendukung kenyamanan pengunjung.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Kebersihan, keamanan, serta pembatasan jam operasional masih menjadi perhatian pemerintah agar keseimbangan antara fungsi pemerintahan dan aktivitas publik tetap terjaga. Kawasan ini ditutup pada malam hari untuk mencegah aktivitas yang tidak tertib.
Namun bagi banyak warga, kehadiran KP3B sebagai ruang rekreasi menjadi angin segar. “Nggak harus jauh-jauh untuk refreshing. Di sini bisa olahraga, foto-foto, atau sekadar duduk santai lihat anak main. Yang penting nyaman,” kata Rizal.
Di balik gedung-gedung pemerintahan yang menjulang, KP3B kini tumbuh sebagai ruang hidup masyarakat—sebuah kawasan yang membuktikan bahwa pusat pemerintahan tak selalu kaku, melainkan bisa menjadi ruang bersama di mana keluarga, komunitas, dan warga dari berbagai daerah menemukan tempat untuk bernafas lega. (*)










Discussion about this post