JAKARTA, BANPOS – Tekanan berat kembali menghantam emiten perbankan pelat merah berkapitalisasi pasar besar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Hingga akhir sesi I perdagangan Jumat (28/11/2025), saham bank yang kini menjadi bagian dari portofolio Danantara ini diparkir melemah 1,07 persen ke level Rp 3.700 per saham.
Penurunan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi sepanjang pekan terakhir November 2025, di mana para pelaku pasar, khususnya investor asing, terlihat melakukan aksi net sell (jual bersih) secara masif.
Fenomena ini menjadi sorotan tajam bagi para investor ritel dan pelaku pasar di kota-kota besar yang memantau pergerakan saham blue chip sebagai instrumen investasi jangka panjang maupun trading harian.
Berdasarkan data perdagangan sesi I hari ini, tercatat sebanyak 146,97 juta saham berkode BBRI diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 26.567 kali. Nilai transaksi yang berputar di lantai bursa untuk saham bank wong cilik ini menyentuh angka Rp 545,74 miliar. Sayangnya, likuiditas yang tinggi tersebut didominasi oleh tekanan jual dari investor mancanegara.
Data pasar menunjukkan bahwa saham BRI mengalami net sell dari investor asing dari segi volume sejumlah 39.755.100 saham hanya dalam satu sesi. Jika menilik rata-rata harga transaksi saham BBRI di sepanjang sesi I yang berada di level Rp 3.713,2 per saham, maka potensi nilai net sell asing per akhir sesi I hari ini berada di kisaran Rp 147 miliar.
Angka ini menambah panjang daftar “pembuangan” saham BBRI oleh asing. Jika ditarik mundur, pada perdagangan tanggal 25 hingga 27 November 2025, saham ini juga selalu berakhir di zona merah. Akumulasi data menunjukkan bahwa dalam sepekan terakhir, saham BRI telah anjlok sekitar 6 persen. Tidak tanggung-tanggung, total net sell investor asing dalam periode mingguan tersebut mencapai angka yang fantastis, yakni sebesar Rp 1,96 triliun.
Kondisi teknikal yang memburuk akibat tekanan jual yang tak kunjung reda ini memicu respons dari broker-broker besar. Mandiri Sekuritas, salah satu sekuritas terkemuka di Indonesia, mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan saham BBRI dari daftar rekomendasi untuk swing trade.
Keputusan ini diambil karena harga saham BBRI sudah melebihi batas kerugian atau stoploss yang ditetapkan oleh broker tersebut, yakni di level 3.750. Jebolnya level psikologis dan teknikal ini menjadi sinyal peringatan jangka pendek bagi para trader yang mengandalkan momentum harga.
Kendati demikian, di tengah gempuran sentimen negatif pergerakan harga pasar, fundamental Bank Rakyat Indonesia sebenarnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup solid jika dilihat dari laporan keuangan teranyar.
Secara kuartalan, laba bersih BBRI pada kuartal III-2025 mencatatkan rebound atau pemulihan yang kuat. Laba perseroan tercatat naik sebesar 15 persen secara quarter-on-quarter (qoq) menjadi Rp 15 triliun, dibandingkan dengan Rp 13 triliun pada kuartal II-2025. Kenaikan laba secara kuartalan ini memberikan indikasi bahwa efisiensi dan strategi bisnis perseroan mulai kembali ke jalur positif, meskipun jika dibandingkan secara tahunan (yoy), angka tersebut masih mengalami penurunan sebesar 6 persen.
Perbedaan antara pergerakan harga saham yang terus merosot dengan perbaikan kinerja kuartalan ini menciptakan anomali yang menarik bagi analis pasar modal. Meski harga sedang tertekan di area Rp 3.700, sekuritas tetap menyematkan rating (peringkat) overweight untuk saham BBRI.
Peringkat overweight umumnya mengindikasikan bahwa analis berekspektasi kinerja saham tersebut akan melampaui rata-rata kinerja saham lain di sektornya dalam jangka waktu tertentu. Namun, penyesuaian target harga tetap dilakukan mengingat dinamika pasar terkini. Target harga saham BBRI direvisi menjadi Rp 4.620 dari patokan sebelumnya yang berada di angka Rp 4.720. Revisi ini mencerminkan sikap hati-hati namun tetap optimis terhadap potensi upside atau kenaikan harga di masa depan, mengingat selisih yang cukup lebar antara harga pasar saat ini dengan target harga tersebut.
Selain isu kinerja keuangan dan pergerakan harga, perhatian investor kini juga tertuju pada agenda korporasi penting yang akan segera digelar. BBRI dijadwalkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 17 Desember 2025 mendatang di Jakarta.
Rapat tersebut direncanakan akan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai. Agenda RUPSLB ini dinanti-nanti oleh pelaku pasar karena sering kali menjadi momen bagi manajemen untuk mengumumkan keputusan strategis, perubahan susunan pengurus, atau kebijakan terkait penggunaan laba yang dapat mempengaruhi valuasi perusahaan ke depan. (*)

Discussion about this post