CILEGON, BANPOS – Dinamika politik di Kota Baja kembali memanas dan menarik perhatian publik. Partai Golkar Kota Cilegon menunjukkan taring dan soliditasnya dalam perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) ke-VI yang digelar di Grand Mangku Hotel, Rabu (26/11).
Dalam agenda krusial tersebut, Ratu Ati Marliati kembali dipercaya untuk menahkodai DPD II Partai Golkar Kota Cilegon.
Kemenangan ini diraih secara aklamasi, menegaskan posisi kuat Ratu Ati sebagai figur sentral yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan partai berlambang pohon beringin tersebut di Cilegon.
Namun, sorotan utama dalam Musda kali ini bukan hanya pada terpilihnya kembali sang petahana. Kejutan besar mewarnai arena musyawarah ketika gerbong politisi dari partai lain secara terbuka menyatakan sikap untuk “banting setir” dan bergabung dengan Golkar.
Fenomena perpindahan kader atau kutu loncat dalam politik adalah hal lumrah, namun yang terjadi di Cilegon kali ini melibatkan fungsionaris inti dari partai-partai kompetitor, yang menandakan adanya magnet politik yang kuat dari kepemimpinan Ratu Ati.
Tercatat, ada lima tokoh penting dari partai politik lain yang resmi mengenakan jaket kuning. Mereka bukan kader biasa, melainkan figur yang memegang posisi strategis di partai lamanya.
Kelima tokoh tersebut adalah Ketua Partai Ummat Cilegon, Maman Sutrisno; Sekretaris PKB Kota Cilegon, Ahmad Yusron; Wakil Ketua DPD Nasdem Kota Cilegon, Johan Singandaru; serta politisi Partai Nasdem lainnya, Iman Khadafi. Selain itu, satu kader dari Partai Perindo yang berhalangan hadir juga dikonfirmasi turut bergabung dalam barisan ini.
Bergabungnya para tokoh lintas partai ini dinilai sebagai langkah strategis Golkar Cilegon dalam memperkuat basis massa menjelang kontestasi politik mendatang. Menanggapi fenomena “bedol desa” para politisi ini, Ratu Ati Marliati memberikan pandangan yang bijak namun tegas.
Ia menekankan bahwa partai yang dipimpinnya bersifat inklusif, namun tetap memegang teguh prinsip loyalitas.
“Bahwa Golkar ini kan partai yang terbuka, keluar masuk partai itu dinamika yang baik. Tetapi kita menggaris bawahi, kalau mereka tidak loyal kita tidak bisa lakukan itu di Partai Golkar. Karena yang pertama, di partai itu tidak ada gajinya tetapi adanya bentuk pengabdian,” tegas Ati di sela-sela acara.
Pernyataan tersebut mengirimkan sinyal kuat kepada kader lama maupun baru, bahwa Golkar Cilegon di bawah komandonya tidak mentolerir pragmatisme semata.
Pengabdian kepada masyarakat menjadi nilai tukar utama dalam perjuangan partai, bukan sekadar transaksional jabatan. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik (trustworthiness) yang menjadi elemen vital.
Agenda besar Ratu Ati di periode kepemimpinan selanjutnya adalah konsolidasi total.
Ia secara terbuka mengakui bahwa Golkar Cilegon memiliki pekerjaan rumah yang besar. Sejarah mencatat, Golkar pernah menjadi penguasa tunggal di eksekutif Kota Cilegon selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mengalami dinamika yang menyebabkan hilangnya kursi Walikota.
Ratu Ati Marliati mengatakan, pihaknya akan memperbaiki serta menata kembali elemen dan infrastuktur partai. Pasalnya kata Ati, Golkar Cilegon pernah mengalami masa kritis sehingga tidak memiliki keterwakilan di tingkat eksekutif alias di Pemerintah Kota Cilegon beberapa waktu lalu.
Evaluasi mendalam ini menjadi landasan bagi Ratu Ati untuk menyusun strategi baru. Kehilangan kursi eksekutif dianggap sebagai pelajaran berharga yang tidak boleh terulang.
“Itu menjadi pengalaman yang luar biasa untuk merapatkan Kembali barisan Partai Golkar. Kalau kita jadi penonton, kita tidak bisa melakukan kebijakan yang pro kepada masyarakat,” ungkapnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi ambisi Golkar untuk tidak lagi sekadar menjadi penyeimbang atau oposisi, melainkan kembali menjadi penentu kebijakan (decision maker).
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang kini mendominasi demografi pemilih, isu kesejahteraan dan kebijakan publik yang konkret adalah hal utama. Ratu Ati menyadari bahwa tanpa kekuasaan di eksekutif, kemampuan partai untuk merealisasikan program pro-rakyat akan sangat terbatas.
Ia menilai, dengan adanya keterwakilan kader Golkar di lembaga eksekutif maupun legislatif, masyarakat Cilegon bisa lebih sejahtera.
Oleh sebab itu, target maksimal dicanangkan: menyapu bersih kursi legislatif dan merebut kembali kursi eksekutif. Dengan infrastruktur partai yang diperbarui dan suntikan energi dari tokoh-tokoh baru yang bergabung, Golkar Cilegon optimis menatap peta politik masa depan. Konsolidasi internal dan ekspansi eksternal yang dilakukan hari ini menjadi sinyal bahaya bagi kompetitor politik lainnya di wilayah Banten.(*)


Discussion about this post