SERANG, BANPOS – Direktur Bisnis PT Bank Pembangunan Daerah Banten (Perseroda) Tbk. (BEKS) atau Bank Banten, Bambang Widyatmoko mengundurkan diri dari perseroan. Pengunduran diri itu menjadi kekhawatiran sejumlah pengamat karena potensi konflik internal yang bisa merugikan bank pelat merah milik Pemprov Banten itu.
Pengunduran diri Bambang Widyatmoko diumumkan Manajemen Bank Banten dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Bank Banten menyampaikan bahwa pengunduran diri tersebut telah diterima manajemen pada 19 November 2025.
“Perseroan telah menerima surat pengunduran diri dari Bapak Bambang Widyatmoko selaku Direktur Bisnis Perseroan pada 19 November 2025,” tulis dokumen yang ditandatangani Direktur Utama Bank Banten Muhammad Busthami, dikutip Kamis (20/11) lalu.
Pengunduran diri salah satu direktur Bank Banten itu kini menjadi sorotan publik. Lantaran kini, progres dari Bank milik Pemprov Banten itu tengah menunjukkan tren yang positif.
Pengamat Kebijakan Publik, Ahmad Sururi menyampaikan, pengunduran diri Direktur Bank Banten itu mudah-mudahan bukan sinyal negatif dan hanya merupakan dinamika perusahaan.
“Mudah-mudahan ini bukan suatu hal yang negatif, tetapi suatu yang dinamis. Namun, fenomena ini bisa kita tangkap, bahwa ada dugaan ketidaksesuaian visi misi di dalam internal bank Banten,” ungkapnya, Senin (24/11).
“Karena saat ini bank Banten tingkat kepercayaannya sebagai mitra pemprov juga lagi baik. Jadi ada indikasi ketidaksesuaian visi misinya. Tapi ini hipotesis saya aja,” sambungnya.
Pendapat itu dia utarakan, karena posisi Direktur Bisnis merupakan posisi yang strategis di Bank Banten. Oleh karenanya, dugaan adanya konflik internal Bank Banten yang tidak bisa dipublikasikan menjadi salah satu dugaan paling kuat.
“Misi, strategi, dan orientasi kedepan, kan sangat mungkin untuk posisi direktur Bisnis. Posisi itu kan strategis karena menentukan. Mudah-mudahan, dia sudah sesuai prosedur dengan alasan yang profesional. Tapi kita perlu juga menduga ada apa dibalik berhentinya direktur ini,” paparnya.
“Secara subjektif kita melihat alasannya mungkin secara pribadi karena tidak satu frekuensi atau ada ketidaksesuaian visi. Atau mungkin ada perbedaan yang sangat mencolok antar direktur,” lanjutnya.(*)

Discussion about this post