LEBAK, BANPOS – Budidaya lebah yang dilakukan masyarakat adat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, terus menjadi penopang ekonomi warga. Produksi madu hutan Badui yang sudah dikelola turun-temurun tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi komoditas bernilai tinggi dengan permintaan yang stabil.
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, mengatakan bahwa budidaya lebah madu telah lama menjadi sumber utama pendapatan masyarakat. “Pengembangan budidaya lebah madu di Badui sudah berlangsung lama sebagai sumber penghasilan ekonomi,” ujarnya, Senin (24/11).
Setiap botol madu Badui dijual dengan harga Rp150 ribu, dan menjadi produk yang laris di berbagai daerah, mulai dari Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat. Ratusan warga Badui Luar berjualan keliling menggunakan angkutan umum, sementara warga Badui Dalam tetap mempertahankan tradisi berjalan kaki.
Sarmin (40) dan Santa (55), pedagang madu dari Badui Luar, mengatakan mereka membawa rata-rata 30 botol setiap kali perjalanan ke Balaraja, Tangerang. Dalam sekali penjualan, omzet bisa mencapai Rp4,5 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp1,5 juta setelah dikurangi modal. “Kami merasa sangat terbantu ekonomi keluarga dari hasil berdagang madu,” ujar Sarmin.
Sarmudin (50), pedagang lain yang rutin berjualan di Jakarta dengan kereta commuter line, mengaku dapat menjual 30 botol per pekan dengan pendapatan mencapai Rp4,5 juta. “Permintaan madu hutan cukup tinggi, kami selalu kehabisan stok,” katanya.
Tingginya permintaan madu Badui tidak terlepas dari khasiat yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, seperti asam urat, kolesterol, rematik, kurang darah, hingga batu ginjal. Pelanggan datang dari berbagai kalangan—sopir, pedagang jamu, masyarakat umum, pejabat, hingga pengusaha. Para pedagang mengaku hampir tidak pernah mengalami kerugian karena madu selalu habis terjual. “Setiap tiga hari kami ke Balaraja, dan 30 botol selalu habis,” ujar Santa.
Meski permintaan tinggi, produksi madu Badui tidak selalu stabil. Proses panen dilakukan secara tradisional, bergantung pada lebah odeng yang bersarang di pohon-pohon besar di Gunung Kendeng, wilayah hak ulayat Badui. Dalam satu sarang, hanya dapat diperoleh tiga hingga empat botol madu.
Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengapresiasi ketekunan masyarakat Badui dalam mempertahankan budidaya madu sekaligus menjadikannya usaha keluarga. Pemerintah mendorong agar usaha madu hutan ini dapat terus berkembang. “Kami berharap usaha madu hutan bisa menjadi andalan ekonomi masyarakat Badui,” ujarnya. (*)







Discussion about this post