CILEGON, BANPOS – Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Cilegon menyoroti derasnya arus perkembangan zaman, profesi guru di Kota Baja menghadapi tantangan baru. Kondisi ini membuat mereka pada tenaga pengajar kian merasa “serba salah”. Beban moral sebagai pendidik yang seharusnya membentuk karakter siswa kini terhambat oleh perubahan pola sosial dan batasan-batasan baru dalam mendisiplinkan peserta didik.
Situasi tersebut diungkapkan Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Cilegon, IPTU Muhyidin, yang menyebut keluhan guru makin sering disampaikan. Terutama terkait terbatasnya ruang bagi pendidik untuk menegakkan kedisiplinan di sekolah.
“Sekarang murid diingatkan katanya guru galak. Kerasin dikit lapor polisi. Jadi guru itu nggak bisa mendidik, hanya bisa mengajar,” ujar Muhyidin, Minggu (23/11/2025).
Menurutnya, pendidik tidak lagi dapat menjalankan peran sebagai figur pembentuk karakter secara penuh. Tindakan mendisiplinkan sedikit saja kerap disalahartikan, bahkan bisa memicu reaksi berlebihan dari siswa maupun orang tua.
“Guru jadi serba salah. Guru hanya bisa mengeluarkan selembar kertas, tidak bisa mengubah karakter dia lebih bagus. Karena anak-anaknya seperti itu. Kita sebagai orang tua juga jangan terlalu diturut turutin, kita cek juga kebenarannya,” tuturnya.
Kondisi ini membuat fungsi pendidikan karakter di sekolah menjadi tidak optimal. Ketika guru dibatasi dalam menegakkan aturan, proses internalisasi nilai, sopan santun, dan kedisiplinan tidak berjalan maksimal. Akibatnya, perilaku siswa yang seharusnya dapat dikoreksi sejak dini justru rentan terbawa hingga ke luar sekolah.
Sementara itu, Muhyidin menegaskan bahwa disiplin tetap dibutuhkan sebagai pondasi perilaku anak. Tanpa pengawasan yang kuat, remaja lebih mudah terpengaruh lingkungan negatif. Fenomena tawuran, balap liar, hingga penyalahgunaan obat-obatan masih kerap ditemukan aparat di sejumlah titik. Ini menunjukkan adanya celah dalam pengawasan dan pembentukan karakter.
Binmas: Orang Tua Menentukan Arah
Di sinilah peran keluarga, kata Muhyidin, menjadi kunci. Dukungan dan pengawasan Orang tua sangat menentukan arah perkembangan anak, terutama ketika berada di luar jam sekolah.
“Walaupun masih di bawah umur, melakukan kriminal tetap ada hukumannya. Jangan kira anakanak nggak dihukum,” tegasnya.
Kasat Binmas menilai sebagian besar remaja saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan sekolah, membuat mereka rawan terjerumus dalam lingkungan yang tidak sehat.
“Kalau di rumah, orang tua kandung yang mengawasi. Kalau di sekolah, guru, Di luar jam sekolah, saya salah satunya sebagai orang tuanya,” ucapnya.
Sebagai langkah pencegahan, Polres Cilegon terus mengintensifkan patroli dan kegiatan rutin untuk memantau perilaku remaja di malam hari. Temuan di lapangan kerap mengejutkan mulai dari anak-anak yang berkeliaran hingga larut malam, mengonsumsi minuman keras, hingga membawa obat-obatan terlarang.
“Saya banyak menemukan anak-anak tengah malam di pinggir jalan pada minum, bahkan ada obat-obatannya. Kok nggak dicari sama orang tuanya?,” ujarnya.
Parahnya, saat polisi memanggil orang tua, alasan yang disampaikan kerap tidak masuk akal. “Alasannya tidur di rumah teman lah, kerja kelompok lah. Tapi masa percaya begitu saja? Harus lebih ketat pengawasannya,” tandasnya. (*)











Discussion about this post