JAKARTA, BANPOS.CO – Bagi investor pasar modal, khususnya kalangan muda di rentang usia 18 hingga 45 tahun yang sedang membangun fondasi finansial, istilah passive income atau pendapatan pasif bukanlah hal asing. Salah satu instrumen paling efektif untuk mencapai kemerdekaan finansial tersebut adalah melalui investasi pada saham-saham yang rutin membagikan dividen (dividend stock).
Di tengah dinamika pasar tahun 2025, strategi berburu dividen menjadi primadona dibandingkan sekadar mengejar kenaikan harga saham (capital gain) yang fluktuatif. Dividen menawarkan kepastian arus kas yang berasal dari sebagian laba bersih emiten. Bagi investor pemula maupun profesional, memilih emiten yang memiliki rekam jejak “loyal” dalam membagi keuntungan adalah kunci utama.
Berdasarkan data historis dan realisasi pembagian keuntungan tahun ini, terdapat sepuluh saham yang masuk dalam radar dividend hunter. Deretan emiten ini tidak hanya konsisten, namun juga mencatatkan tingkat imbal hasil (yield) yang sangat menarik, bahkan jauh di atas rata-rata bunga deposito bank konvensional.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai 10 saham yang terbukti konsisten membagikan dividen pada 2025, yang layak dipertimbangkan untuk portofolio jangka panjang Anda.
Dominasi Sektor Perbankan (Big Banks)
Sektor perbankan masih menjadi jangkar utama bagi investor yang menginginkan kombinasi antara pertumbuhan aset dan dividen rutin. Empat bank raksasa di Indonesia tercatat memberikan performa impresif tahun ini.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin barisan perbankan dengan catatan pembagian dividen pada 23 April 2025. Emiten pelat merah ini memberikan Rp466 per saham kepada investornya. Yang menarik perhatian adalah rasio pembayaran dividen (payout ratio) yang mencapai 82,42 persen dengan yield sebesar 10,59 persen. Angka ini menunjukkan komitmen manajemen BMRI untuk mengembalikan mayoritas keuntungan kepada pemegang saham.
Tak kalah menarik, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang dikenal sebagai bank dengan basis UMKM terbesar, juga membagikan dividen pada tanggal yang sama, 23 April 2025. BBRI mencatatkan payout ratio yang nyaris sempurna di angka 99,03 persen. Meskipun yield-nya berada di level 8,13 persen dengan nominal Rp343 per saham, konsistensi BBRI menjadikannya favorit investor ritel.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membagikan dividen Rp374 per saham untuk tahun buku 2024. Dengan payout ratio 69,11 persen dan yield 8,78 persen, BBNI menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Di sisi bank swasta, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi pilihan bagi mereka yang mengutamakan stabilitas pertahanan modal. Meski secara nominal dividennya Rp300 per saham dengan yield 3,85 persen—yang terlihat lebih kecil dibanding bank BUMN—BBCA menawarkan payout ratio moderat sebesar 63,73 persen yang menjamin sisa laba ditahan untuk ekspansi bisnis berkelanjutan.
Selain “The Big Four”, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) muncul sebagai emiten perbankan dengan valuasi yang relatif murah namun royal. BNGA memberikan yield 9,15 persen dan nominal Rp155 per saham, menjadikannya opsi diversifikasi yang menarik di sektor finansial.
Pesta Pora Sektor Energi dan Pertambangan
Bagi pemburu high yield, sektor energi dan pertambangan adalah ladang emas. Risiko siklis pada sektor ini terbayar lunas dengan besaran dividen yang dibagikan.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menjadi juara dalam hal imbal hasil. Untuk tahun buku 2025, ITMG mencatatkan data fenomenal dengan membagikan dividen senilai Rp3.473 per saham. Payout ratio-nya bahkan menembus angka 131,28 persen, yang berarti perusahaan membagikan laba ditahan dari tahun sebelumnya. Dengan yield mencapai 15,07 persen, ITMG menjadi saham dengan imbal hasil tertinggi dalam daftar ini.
Menyusul di belakangnya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Emiten tambang batu bara milik negara ini terakhir membagikan dividen pada 11 Juli 2025. Nilainya sebesar Rp332 per saham dengan yield double digit di angka 12,09 persen dan payout ratio terjaga di 74,96 persen.
Di sektor alat berat yang terafiliasi dengan pertambangan, PT United Tractors Tbk (UNTR) mempertahankan reputasinya sebagai emiten ‘loyal’. UNTR membagikan nominal jumbo Rp2.151 per saham. Walaupun payout ratio-nya konservatif di 49,34 persen, yield yang dihasilkan tetap kompetitif di level 8,04 persen.
Sektor infrastruktur gas juga tidak mau kalah. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memberikan dividen Rp182 per saham. Dengan payout ratio tinggi sebesar 93,02 persen, PGAS memberikan imbal hasil 10,52 persen, angka yang sangat menggiurkan bagi pencari pendapatan pasif.
Stabilitas Konglomerasi
Terakhir, raksasa otomotif dan konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) tetap menjadi saham lapis pertama (blue chip) yang rajin berbagi keuntungan. Untuk tahun buku 2024, ASII membagikan Rp406 per saham. Dengan rasio pembayaran 52,97 persen, ASII menawarkan keseimbangan antara dividen (yield 7,09 persen) dan dana cadangan untuk operasional bisnis yang masif.
Data-data di atas menunjukkan bahwa peluang mendapatkan passive income di pasar modal Indonesia sangat terbuka lebar. Namun, investor tetap disarankan untuk memperhatikan fundamental perusahaan dan tidak hanya tergiur oleh angka yield semata, mengingat kinerja masa lalu tidak selalu menjamin kinerja masa depan. Keputusan investasi harus selalu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing individu. (“)











Discussion about this post