BOGOR, BANPOS – Dosen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran IPB University, dr Ganot Sumulyo, SpOG, menanggapi temuan mikroplastik dalam cairan amnion dan urin ibu hamil. Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana partikel plastik berukuran sangat kecil itu bisa mencapai tubuh ibu dan kemudian janin.
Ganot menjelaskan bahwa ada tiga jalur utama masuknya mikroplastik ke tubuh manusia, termasuk ibu hamil. “Pertama, melalui inhalasi udara yang mengandung debu atau serat plastik, terutama di daerah perkotaan dan ruang tertutup. Partikel berukuran sangat kecil dapat menembus alveolus dan masuk ke aliran darah,” ujar Ganot dalam keterangan resmi yang dipublikasikan di situs IPB University, Jumat (21/11).
Jalur kedua adalah konsumsi makanan dan minuman. Air kemasan, makanan laut, hingga pangan yang dikemas atau dipanaskan dalam plastik berpotensi mengandung mikroplastik. Partikel berukuran nano dapat menembus lapisan usus dan kemudian memasuki sistem peredaran darah.
Ketiga, mikroplastik dapat diserap melalui kulit, meski kontribusinya relatif kecil dibanding dua jalur utama lainnya.
Ganot menuturkan bahwa pada kondisi normal, plasenta berfungsi sebagai pelindung utama janin. Namun, sejumlah penelitian internasional menunjukkan partikel nanoplastik mampu melewati lapisan tersebut. “Mikroplastik bahkan telah ditemukan pada plasenta manusia, mekonium, dan jaringan janin. Ini menunjukkan adanya potensi paparan sejak dalam kandungan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa paparan mikroplastik dapat memicu peradangan, stres oksidatif, serta gangguan aliran nutrisi pada plasenta. Dalam studi hewan, paparan tersebut juga dikaitkan dengan penurunan berat lahir, keterlambatan pertumbuhan, dan perubahan perkembangan organ. Selain partikel plastik itu sendiri, bahan kimia aditif seperti phthalates dan Bisphenol A (BPA) berpotensi mengganggu keseimbangan hormon yang berperan dalam pertumbuhan dan reproduksi.
Menurut Ganot, pola hidup modern turut meningkatkan risiko paparan. Konsumsi air kemasan, makanan berbungkus plastik, pemanasan makanan dalam wadah plastik, hingga paparan serat sintetis dari tekstil dalam ruangan menjadi sumber utama yang perlu diwaspadai.
Untuk mengatasi masalah ini, Ganot mendorong adanya riset terpadu mengenai mikroplastik—mulai dari kohort ibu–anak, studi toksikokinetik, uji hewan dengan dosis realistis, hingga standardisasi metode deteksi. Ia juga menilai edukasi tenaga kesehatan dan masyarakat perlu diperkuat. “Diperlukan edukasi mengenai penggunaan plastik secara bijak, terutama bagi ibu hamil. Mikroplastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi tantangan kesehatan reproduksi masa depan,” ujarnya. (*)











Discussion about this post