LEBAK, BANPOS – Produksi tanaman komoditas pertanian palawija di Kabupaten Lebak, Banten periode Januari-Oktober 2025 mencapai 8.102 ton dengan panen seluas 1.402 hektare.
“Saya kira produksi tanaman palawija itu naik dari sebelumnya Januari-September 2025 sebanyak 6.668 ton dengan areal luas panen sekitar 1.265 hektare,” kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Jumat (21/11/2025).
Pemerintah Kabupaten Lebak mendorong petani agar memperluas areal tanam komoditas pertanian palawija, karena permintaan pasar cukup tinggi.
Komoditas pertanian palawija dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di pedesaan.
Karena itu, pihaknya minta petani agar menggeluti usaha pertanian palawija.
Saat ini, produksi tanaman komoditas palawija sebanyak 8.102 ton terdiri dari komoditas jagung 2.391 ton, kacang tanah 495 ton, kacang hijau 4 ton, ubi kayu 4.188 ton, dan ubi jalar 1.024 ton.
Diperkirakan dari produksi kelima komoditas palawija sebanyak 8.102 ton itu dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat mulai petani, buruh tani, buruh angkut, pengemudi angkutan, pengepul, pedagang pengecer dan pelaku UMKM.
“Kami meyakini hasil usaha produksi pertanian palawija dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Edi (55) seorang petani di Blok Cileuweung Rangkasbitung, di Lebak mengatakan, pihaknya mempersiapkan tanaman palawija jenis komoditas jagung siap panen awal Desember mendatang.
Penanaman jagung diwilayahnya itu dengan memanfaatkan lahan perusahaan developer yang belum digarap untuk pembangunan perumahan.
Produksi panen jagung sudah ditampung oleh perusahaan ternak unggas dari Tangerang.
“Kami mengembangkan pertanian jagung sudah dua kali dan meraup keuntungan bersih Rp25 juta di lahan satu hektare,” kata Edi.
Sementara itu, Wawan (55) petani jagung warga Maja Kabupaten Lebak mengatakan, petani jagung di sini mencapai puluhan orang dengan memanfaatkan lahan-lahan perusahaan developer yang belum dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan.
Saat ini, mereka petani melakukan gerakan penanaman jagung, terlebih curah hujan tinggi.
Produksi pertanian jagung hingga kini menjadi andalan ekonomi petani karena dengan waktu 100-110 hari setelah tanam bisa dipanen.
Produktivitas jagung hibrida rata-rata 7 ton/hektare dengan harga kondisi kering Rp6.000/kilogram, sehingga jika dikalkulasi bisa menghasilkan Rp42 juta.
Dari pendapatan sebesar itu dipotong biaya upah kerja, pupuk dan benih Rp15 juta, sehingga mereka petani bisa meraup keuntungan Rp22 juta/panen.
“Kami di sini jika panen jagung mencapai ribuan ton dan ditampung oleh perusahaan peternakan di Balaraja, Tangerang,” katanya.(ANTARA)







Discussion about this post