SERANG, BANPOS – Bagi generasi muda yang tinggal di hiruk-pikuk kota besar, membayangkan sebuah pusat peradaban internasional pernah berdiri megah di tanah Banten mungkin terdengar seperti dongeng.
Namun, jejak itu nyata adanya. Di jantung kawasan Banten Lama, Kota Serang, terhampar sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini dikenal sebagai Keraton Surosowan.
Destinasi ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan saksi bisu dari sebuah era emas sekaligus tragedi kehancuran yang memilukan.
Keraton Surosowan adalah manifestasi dari kekuatan Kesultanan Banten yang pernah berjaya sebagai pusat maritim dan perdagangan di Nusantara.
Dibangun pertama kali pada tahun 1552, keraton ini merupakan warisan dari Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari salah satu Wali Songo, Sunan Gunung Jati.
Dalam catatan sejarahnya, kompleks seluas kurang lebih 4 hektare ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarganya.
Lebih dari itu, Surosowan adalah jantung administrasi pemerintahan, pusat pertahanan militer, hingga titik sentral pengaturan perdagangan internasional.
Pada masanya, Banten adalah kota kosmopolitan di mana pedagang dari Arab, Tiongkok, India, hingga Eropa berkumpul.
Keunikan Keraton Surosowan terletak pada arsitekturnya yang melampaui zamannya.
Konstruksi bangunan ini memadukan gaya lokal Nusantara dengan sentuhan arsitektur Timur Tengah, nuansa Hindu-Buddha, hingga gaya Eropa yang kokoh.
Perpaduan ini menunjukkan betapa terbukanya Kesultanan Banten terhadap berbagai kebudayaan dunia pada abad ke-16 hingga ke-17.
Namun, seperti roda yang berputar, kejayaan Banten perlahan menghadapi ujian berat.
Memasuki abad ke-17, intrik politik dan konflik internal mulai menggerogoti kesultanan dari dalam.
Perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa yang anti-VOC dengan putranya sendiri, Sultan Haji, menjadi celah yang dimanfaatkan dengan cerdik oleh kolonial Belanda.
Demi ambisi kekuasaan dan mengalahkan ayahnya, Sultan Haji bahkan rela menyerahkan sebagian kedaulatan Banten kepada pihak Belanda.
Keputusan fatal ini menjadi awal dari redupnya sinar Kesultanan Banten.
Tragedi puncak yang mengubah wajah Surosowan selamanya terjadi pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1808.
Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenal bertangan besi, Herman Willem Daendels, memerintahkan penghancuran total keraton ini.
Dendam dan ambisi Daendels membuat istana yang dulunya megah itu luluh lantak.
Tragisnya, puing-puing dan batu dari bangunan keraton tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dijarah dan digunakan sebagai material untuk membangun Benteng Speelwijk serta proyek ambisius Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer hingga Panarukan.
Daendels secara harfiah mengubur kejayaan Banten ke dalam jalanan yang ia bangun.
Kini, saat pengunjung melangkahkan kaki ke kawasan Banten Lama, yang tersisa hanyalah hamparan reruntuhan yang sunyi namun eksotis.
Pemandangan ini justru menawarkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan milenial dan Gen Z yang gemar berburu lokasi hidden gem bernilai sejarah.
Meski telah hancur, sisa-sisa kemegahan itu masih dapat diidentifikasi.
Pengunjung masih bisa melihat pondasi gerbang utama yang kokoh, serta tembok benteng dengan ketebalan fantastis mencapai 6 hingga 8 meter.
Ketebalan dinding ini menjadi bukti betapa kuatnya sistem pertahanan keraton pada masa lalu.
Salah satu spot yang paling menarik perhatian adalah bekas kolam Rara Denok. Area ini dulunya berfungsi sebagai tempat pemandian bagi putri-putri keraton.
Selain itu, terdapat pula sumur-sumur tua dan sistem pancuran air yang menunjukkan kemajuan teknologi pengairan masa itu.
Berjalan di antara reruntuhan ini seolah membawa imajinasi kita berkelana, menyusun ulang kepingan kemewahan yang pernah ada ratusan tahun silam.
Pemerintah setempat pun tidak tinggal diam dalam menjaga warisan berharga ini.
Keraton Surosowan telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Serang Nomor 233 Tahun 2024.
Langkah ini diambil untuk memastikan perlindungan hukum terhadap situs bersejarah tersebut.
Hingga kini, proses ekskavasi dan penelitian terus dilakukan oleh para arkeolog untuk mengungkap lebih banyak misteri yang masih terkubur di balik tanah Surosowan.
Bagi Ce’es BANPOS yang ingin melarikan diri sejenak dari rutinitas modern dan meresapi atmosfer masa lalu, Keraton Surosowan adalah destinasi yang tepat.
Kabar baiknya, akses ke situs bersejarah ini sangat inklusif. Wisatawan dapat masuk secara gratis setiap hari, mulai dari pagi hingga sore hari.
Ini adalah kesempatan emas untuk belajar sejarah secara langsung di lokasi kejadian, bukan hanya dari buku teks.
Keraton Surosowan kini berdiri dalam diam, namun reruntuhannya “berbicara” lantang tentang kejayaan yang pernah diraih dan harga mahal sebuah kemerdekaan yang terenggut. (*)







Discussion about this post