LEBAK, BANPOS – Rendahnya partisipasi pria dalam metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), khususnya vasektomi, hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam program pengendalian penduduk.
Direktur Bina Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana, Zamhir Setiawan, menyebut sejumlah mitos menjadi faktor utama yang membuat para suami enggan mengikuti prosedur tersebut.
Menurut Zamhir, berbagai kekhawatiran tanpa dasar masih beredar luas di masyarakat, mulai dari anggapan bahwa vasektomi dapat menurunkan vitalitas hingga menyebabkan gangguan kesehatan.
“Padahal hal-hal itu tidak benar. Kekhawatiran itu muncul karena mitos yang terus berkembang,” ujarnya saat ditemui BANPOS di Rangkasbitung, Senin (17/11).
Untuk mengurangi persepsi keliru tersebut, pihaknya mendorong strategi sosialisasi yang lebih efektif, salah satunya dengan menghadirkan pria yang sudah menjalani vasektomi untuk berbagi pengalaman langsung kepada calon peserta.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan informasi dari narasumber yang sudah merasakan sendiri manfaat dan prosesnya, sehingga mereka tahu bahwa mitos itu tidak terbukti,” katanya.
Zamhir juga memastikan bahwa layanan vasektomi telah tersedia dan dapat diakses di berbagai daerah.
Saat ini prosedur tersebut dapat dilakukan oleh dokter urologi atau setidaknya dokter bedah yang bertugas di rumah sakit daerah. Calon peserta dapat mendaftar melalui Dinas KB Kabupaten/Kota untuk difasilitasi mengikuti tindakan tersebut.
“Fasilitas dan tenaga medisnya ada. Tinggal kemauan masyarakat saja. Pemerintah siap membantu bagi yang berminat,” jelasnya.
Menurutnya, program penguatan partisipasi pria dalam KB diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pengendalian jumlah kelahiran, sekaligus mendorong pembagian peran yang lebih setara dalam keluarga.(*)

Discussion about this post