CILEGON, BANPOS – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi penyumbang angka pengangguran terbanyak di Kota Cilegon.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami peningkatan.
Berdasarkan data terbaru, TPT di Cilegon mencapai 7,41 persen, naik dari 6,08 persen pada periode yang sama tahun 2024.
Kepala BPS Cilegon, Dadan Sudarmadi, mengungkapkan bahwa 40 persen penyumbang angka pengangguran berasal dari lulusan SMK, atau sekitar 7.000 orang.
Sementara itu, lulusan sarjana berkisar antara 2.000 hingga 3.000 orang.
“Hasil dari kami penyumbang tertinggi SMK sekitar 40 persen sekitar 7.000 orang. Lulusan Sarjana sekitar 2.000-3.000 orang,” katanya usai kegiatan Pembahasan TPT Kota Cilegon di kantor Bappedalitbang Kota Cilegon, Selasa (11/11).
la menguraikan bahwa lulusan SD, SMP, SMA, dan SMK turut menyumbang angka pengangguran tersebut. Namun, lulusan SMK menjadi kelompok yang paling mendominasi.
Selain itu, ada juga lulusan perguruan tinggi seperti jenjang diploma, sarjana yang menganggur hampir 3.000 orang.
“Kan ada pengangguran dari tamatan SD, SMP, SMA, SMK paling tinggi SMK. Mungkin ini bisa jadi masukan untuk pemerintah, supaya lulusan apa yang diperlukan oleh industri Cilegon,” ujarnya.
Lebih lanjut, kata dia, berdasarkan hasil list terakhir, jumlah pengangguran di Kota Cilegon mencapai sekitar 15 ribu orang, dengan TPT sebesar 7,41 persen, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka 6,08 persen.
“Kenaikan ini disebabkan oleh jumlah peningkatan angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan penyerapan ketenagakerjaannya,” tuturnya.
Dadan menilai, indikator lain yang turut memengaruhi peningkatan angka pengangguran adalah PHK yang terjadi di berbagai sektor industri di Kota Baja tersebut.
“Selain itu ada beberapa PHK di sektor-sektor industri kemudian sektor lainnya juga ada,” ucapnya.
la menuturkan, kegiatan pembahasan strategi penurunan angka pengangguran diharapkan dapat mendorong warga Cilegon untuk memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang ada di daerah tersebut.
“Dari sektor-sektor mana saja kemudian lulusan mana saja yang perlu difokuskan, supaya bagaimana diterima lapangan kerja di Kota Cilegon. Kemudian untuk mendorong bagi yang belum diterima pekerjaan untuk meningkatkan skill-nya supaya diterima di lapangan kerja dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada industri besar di Cilegon.
la menegaskan perlunya pelatihan dan pendampingan agar masyarakat memiliki keterampilan yang memadai. (*)








Discussion about this post