LOMBOK, BANPOS – Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu menyoroti rendahnya tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang dinilai menjadi salah satu penyebab maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi informasi di dunia maya.
Hal ini disampaikan Ismail dalam acara Media Gathering Publikasi Media “Transformasi Layanan Menuju SDM Hindu yang Unggul” di Lombok, Minggu (9/11). “Kalau ditanya bagaimana kebijakan komunikasi di Indonesia, saya menyebutnya open sky policy. Langit Indonesia ini terbuka bagi semua informasi. Namun, jika ada konten yang melanggar undang-undang baru diblokir. Artinya kebebasan dijunjung tinggi, tapi tantangannya besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ismail menjelaskan bahwa karakter ruang digital Indonesia yang sangat terbuka tidak diimbangi dengan kecakapan digital masyarakat. “Tingkat literasi digital Indonesia hari ini masih berada pada indeks 3,5 dari skala 5. Masih banyak ujaran kebencian dan cacimaki di ruang digital kita. Itu indikator bahwa masyarakat belum cukup cakap dalam menyaring informasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kurangnya literasi digital membuat masyarakat mudah termakan informasi menyesatkan yang beredar di media sosial.
Lebih lanjut, Ismail menyoroti fenomena manipulasi konten digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Banyak video publik dipotong atau disunting sehingga mengubah konteks pesan asli dan memicu kemarahan publik. “Sekarang banyak video yang diklipper, dipotong lalu disambungkan, bahkan diberi suara dengan AI. Ini bisa menghancurkan reputasi seseorang hanya dalam sekejap. Separuh masyarakat percaya, separuh lagi tidak,” katanya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ismail menekankan pentingnya edukasi literasi digital bagi masyarakat. Ia mengajak media menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang jernih, akurat, dan edukatif. “Masyarakat harus diajarkan cara memeriksa informasi, melakukan tabayyun, dan tidak langsung percaya konten viral. Peran media sangat penting untuk menjelaskan dan meluruskan agar masyarakat tidak terjebak dalam ketidakpintaran digital,” tegasnya.
Ismail menegaskan, pertahanan terbaik bangsa terhadap hoaks dan ujaran kebencian adalah masyarakat yang melek informasi dan kritis terhadap sumber berita. (*)











Discussion about this post