SERANG, BANPOS – Industri kemasan aseptik nasional mencatat pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya kebutuhan produk pangan bergizi dan tren kemasan ramah lingkungan.
Selama lebih dari lima dekade, kebutuhan kemasan aseptik Indonesia bergantung pada impor, namun peta industri berubah sejak hadirnya produksi dalam negeri.
Nilai industri kemasan aseptik Indonesia tercatat naik dari Rp87,6 triliun pada 2022 menjadi Rp93,2 triliun pada 2023, dan diperkirakan melampaui Rp100 triliun pada akhir 2024.
Dalam lima tahun mendatang, sektor ini diprediksi tumbuh hingga 24 persen didorong oleh permintaan dari industri makanan-minuman dan perubahan gaya hidup masyarakat kelas menengah.
Berdirinya LamiPak Indonesia menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri kemasan aseptik. Perusahaan mulai beroperasi pada Mei 2022 dengan investasi awal Rp3 triliun. Produksi komersial dimulai pada April 2024 dengan kapasitas awal 12 miliar kemasan per tahun, termasuk sedotan kertas sebagai produk pendukung. Mulai 1 Agustus 2025, kapasitas penuh perusahaan mencapai 21 miliar kemasan per tahun.
“Sebagai salah satu pelaku utama di industri kemasan aseptik Indonesia, LamiPak berkomitmen untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis melalui penyediaan kemasan yang aman, berkualitas tinggi, dan diproduksi di dalam negeri untuk produk susu maupun minuman bergizi lainnya,” ujar Managing Director LamiPak Indonesia, Anton Hui dalam kegiatan ‘Ngobrol Santai’ bersama awak media dengan tema ‘Strategic Outlook For A Sustainable Aseptic Packaging Manufakturing’ di Wisata Agro Bukit Waruwangi, Cinangka, Kabupaten Serang, Kamis (30/9/2025) lalu. `
Ia menegaskan pentingnya inovasi pengemasan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. “Kami percaya bahwa inovasi kemasan tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan produk, tetapi juga dalam mendorong peningkatan gizi dan ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Melalui pengembangan teknologi, investasi berkelanjutan, dan peningkatan kapasitas produksi, LamiPak menegaskan komitmennya memperkuat rantai pasok kemasan nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan sadar gizi. (*)











Discussion about this post