CILEGON, BANPOS – Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC), terus berkomitmen meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.
Salah satunya dengan menyelenggarakan layanan Kateterisasi Jantung, sebuah inovasi teknologi yang dibarengi dengan pelayanan manusiawi, demi menjaga degup harapan pasien jantung.
Seperti diketahui, Kateterisasi Jantung merupakan tindakan diagnostik untuk melihat kelainan atau abnormalitas jantung termasuk kelainan fungsi jantung, penyumbatan pembuluh darah koroner, penyakit katub jantung serta kelainan bawaan pada jantung.
Salah satu pasien, Adytia Anugrah (32), terkulai lemah di ranjang perawatan di salah satu ruangan di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon.
Di ruangan itu, Adytia bukan satu-satunya orang yang sedang mendapatkan pelayanan kateterisasi jantung, tapi ada sejumlah orang lainnya dengan berbagai jenis kelamin dan usia.
“Saya hobi bersepeda, rutin bike to work tiap hari dan akhir pekan. Saya juga tidak merokok, tidak minum alkohol. Kadar kolesterol dan tekanan darah pun cenderung normal,” ujar Aditya saat diwawancarai BANPOS.
Ia pun bercerita mengapa dirinya berada di pelayanan kateterisasi jantung RSKM Cilegon. Suatu hari, ia tengah bersepeda dengan rute yang berbeda dari biasanya. Meski demikian, jaraknya tetap sama, sekitar 10 km.
“Di tanjakan curam dekat rumah, dada saya tiba-tiba sakit sekali. Napas sesak, mual, mau muntah nggak bisa. Lemes banget rasanya, seperti mau pingsan. Saya pun menepi, duduk, atur napas selama 15 menit,” tuturnya.
Sesampainya di rumah, ia pun istirahat total. Lengan kiri rasanya pegal sekali. Selain itu, ia juga masih mual dan berkeringat dingin.
“Empat hari setelah kejadian itu, barulah saya memeriksakan diri ke RS Krakatau Medika dan dirujuk ke dokter spesialis jantung. Meski saat itu hasil EKG dan USG jantung saya normal, dari gejala yang saya alami sudah ada feeling. Benar saja, hasil pemeriksaan darah menyatakan saya mengalami serangan jantung,” terangnya.
Ia menuturkan tidak punya keluarga dengan riwayat penyakit atau serangan jantung, jadi tidak familiar dengan gejalanya.
“Siapa sangka, saya mengalami serangan jantung di usia semuda ini. Saya harus dirawat selama lima hari untuk persiapan kateterisasi. Ternyata pembuluh jantung sebelah kanan saya sudah tersumbat hampir 90 persen,” ujarnya.
“Berkat penanganan yang tepat, disiplin dalam pengobatan, dan pola makan yang dijaga ketat, syukurlah ternyata saya tidak perlu pasang ring,” tambahnya.
Tiga bulan setelahnya, sumbatan sudah turun drastis menjadi 20 persen. “Bahkan berat badan saya pun turun 15 kilogram, jadi lebih fit. Ini sebuah mukjizat,” ujarnya.
“Saya bersyukur bertemu salah satu dokter spesialis jantung di RSKM. Beliau sangat komunikatif. Penanganan tim medis RSKM juga sangat baik, perawatnya ramah dan cepat tanggap,” tutupnya tersenyum.
Pasien lainnya, Supriyadi (54), juga menjajal cath lab atau kateterisasi jantung di RS Krakatau Medika.
Berdasarkan penuturannya, tidak ada rasa sakit saat tindakan kateterisasi yang dilakukan. Bahkan, pasien masih bisa diajak ngobrol sepanjang operasi hingga membuatnya tidak sadar bahwa tindakan sudah selesai dilakukan.
“Tidak merasakan sakit, tiba-tiba tindakan selesai. Saat ini saya tidak merasakan keluhan apapun,” ujarnya.
Terpilihnya Supriyadi untuk mencoba cath lab di RS Krakatau Medika tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya, ia menjadi salah satu orang yang kerap mengeluhkan sakit pada bagian dada saat melakukan aktivitas berat.
Dirinya pun memiliki faktor risiko berupa diabetes melitus dan hipertensi. Sehingga, pemeriksaan cath lab perlu dilakukan untuk memeriksa bagaimana sumbatan yang terjadi pada bagian jantungnya.
Supriyadi mengajak masyarakat agar jangan ragu dan jangan takut melakukan pemeriksaan terkait penyakit jantung, khususnya dengan cath lab.
“Masyarakat segera cek kesehatan jantung di RS Krakatau Medika. Alatnya sudah canggih tidak perlu ke rumah sakit di wilayah lain,” katanya.
Cath lab sendiri merupakan alat yang dapat digunakan untuk tindakan angiografi koroner, sebuah prosedur pemeriksaan invasif yang dilakukan untuk dapat melihat penyempitan atau penyumbatan struktur pembuluh darah koroner.
Pemeriksaan cath lab dilakukan pada pasien yang diduga mempunyai penyakit jantung koroner. “Tujuannya, untuk mencari tahu kondisi jantung pasien agar diagnostik bisa dilakukan,” ujarnya.
Senior Officer Humas dan CSR (Corporate Social Responsibility) RSKM Kota Cilegon, Agus Wirawan, menjelaskan bahwa Kateterisasi Jantung merupakan tindakan diagnostik untuk melihat kelainan atau abnormalitas jantung termasuk kelainan fungsi jantung, penyumbatan pembuluh darah koroner, penyakit katub jantung serta kelainan bawaan pada jantung.
“Secara umum tindakan prosedur kateterisasi jantung dilakukan untuk 2 indikasi yaitu sebagai penegakan diagnosis dan intervensi (pengobatan) pada beberapa masalah jantung dan pembuluh darah dengan risiko minimal efek samping, tindakan tersebut juga dikenal dengan istilah percutaneous coronary intervention (PCI),” ujar Agus kepada BANPOS, Jumat (31/10).
Dikatakan Agus, kateterisasi sebagai penegakan diagnostik. Lanjut dia, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah umumnya melakukan tindakan kateterisasi jantung untuk memastikan penyebab timbulnya keluhan nyeri dada maupun gangguan irama jantung.
Selain digunakan sebagai penegakan diagnosis kateterisasi jantung, kata dia bisa juga dilakukan sebagai tindakan pengobatan (intervensi) seperti angioplasti, atau pelebaran pembuluh darah koroner yang tersumbat, ablasi, yang biasa dilakukan untuk mengatasi gangguan irama jantung (aritmia), trombektomi, atau proses menghilangkan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah dan valvuloplasti, yang dilakukan untuk mengatasi masalah penyempitan katup jantung dengan menggunakan balon khusus.
“Tindakan kateterisasi jantung dan atau PCI sangat dianjurkan pada pasien yang memiliki faktor risiko penyakit jantung koroner seperti penderita dengan kolesterol tinggi (hiperlipidemia), diabetes mellitus/kencing manis, hipertensi/tekanan darah tinggi
perokok berat dan asien yang terduga memiliki penyakit jantung koroner yaitu mengalami nyeri dada yang khas hasil rekam jantung (EKG) dan Treadmill tidak dapat terlihat secara pasti abnormalitasnya. Pasien yang sudah pernah dilakukan PCI atau operasi by pass sebelumnya dan saat ini ingin melihat perkembangan hasil terapinya,” paparnya.
Dikatakan Agus, prosedur tindakan kateterisasi jantung yaitu tindakan dilakukan dengan memasukan alat berupa tabung kecil yang fleksibel (kateter) berdiameter 1,5-2 mm melalui pembuluh darah arteri pada pangkal paha atau lengan untuk langsung menuju ke pembuluh darah jantung, dan kemudian dimasukan zat kontras ke dalamnya dan pasien tetap dalam kondisi sadar dan hanya menggunakan pembiusan lokal (anastesi lokal).
“Kateterisasi jantung biasanya berlangsung sekitar 30 menit hingga 1 jam, tergantung pada kompleksitas kasus. Bila memiliki keluhan kesehatan jantung silahkan berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung RS Krakatau Medika Cilegon mengunjungi RS Krakatau Medika Cilegon,” ujarnya.
Agus menambahkan, jika berencana melakukan tindakan kateterisasi jantung, maka percayakan pada RS Krakatau Medika yang berlokasi di Cilegon.
Salah satu dokter spesialis jantung Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon, dr Rachmat Setiarsa, mengatakan bahwa angka penderita penyakit jantung dari tahun ke tahun terus meningkat, dan penyakit ini menjadi penyebab angka kematian mendadak yang cukup tinggi di Indonesia dan juga secara global.
“Begitupun dengan Kota Cilegon, pasien penderita penyakit jantung yang saya tangani di RSKM terus meningkat jumlahnya. Dan rata-rata itu disebabkan karena adanya penyakit metabolik pada pasien yang tidak cepat ditangani,” katanya di sela acara simposium mini kesehatan yang digelar RSKM belum lama ini.
Rachmat menuturkan, beberapa penyakit metabolik seperti diabetes melitus, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi tentu jika tidak ditangani sedini mungkin bisa menyebabkan kerusakan dan mengganggu fungsi jantung.
“Penyakit-penyakit metabolik ini harus benar-benar diperhatikan. Dan tenaga kesehatan seperti dokter, apoteker ini harus bisa melakukan pendekatan terhadap pasien secara komprehensif dan terintegrasi,” ujarnya.
Penanganan penyakit metabolik, lanjut Rachmat, memerlukan kolaborasi multi-disiplin, baik itu dokter sebagai garda terdepan dalam diagnosis dan tatalaksana klinis, maupun apoteker yang memiliki peran vital dalam memastikan penggunaan obat yang rasional, aman, dan efektif.
“Dokter dan paramedis lain harus bisa memberikan edukasi kepada pasien secara baik-baik terkait penyakit yang dideritanya. Bikin pasien rileks sehingga tidak membuat panik dan dikhawatirkan bisa memperparah kondisi pasien,” jelasnya.
Rachmat menjelaskan, penyakit metabolik yang bisa mengakibatkan penyakit jantung biasanya muncul karena pola hidup yang tidak seimbang dan tidak sehat.
“Pola makan yang tidak teratur dan sering mengonsumsi makanan tinggi kolesterol seperti gorengan, jeroan, makanan berlemak, kue-kue dan minuman tinggi gula, serta kebiasaan makan makanan cepat saji bisa jadi pemicu penyakit metabolik,” tuturnya.
Untuk itu, Rachmat menganjurkan agar masyarakat menjalani pola hidup sehat seperti melakukan diet dan berolahraga secara rutin.
“Kurangi konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat atau bahkan kalau bisa hindari agar terhindar dari penyakit metabolik dan hidup menjadi sehat. Jantung sehat, badan sehat kualitas hidup menjadi lebih baik,” ucapnya.
“Olahraga minimal sepekan 4 kali dan minimal sekali olahraga 30 menit. Bisa langsung dilakukan secara penuh atau diputus-putus misal 5 menit istirahat dulu lanjutkan lagi sampai selesai 30 menit,” imbuh Rachmat.
Terkait olahraga khusus, Rachmat tidak menyebutkan olahraga-olahraga tertentu. Menurutnya, semua jenis olahraga baik untuk tubuh asalnya disesuaikan dengan usia dan tidak dipaksakan.
“Intinya bergerak, berkeringat, dan membakar lemak, kalori dalam tubuh. Olahraga sesuai hobi lebih baik, karena disukai dan dilakukan konsisten, tidak dengan keterpaksaan,” katanya.
Namun, Rachmat mengungkapkan jika tidak mengatur pola makan yang baik dan kurang olahraga hanya salah satu faktor penyebab dari terjadinya penyakit jantung koroner yang menyebabkan kematian mendadak.
“Menjaga konsumsi makanan yang sehat dan berolahraga ternyata tidak cukup untuk menghindari penyakit jantung koroner ini,” ucapnya.
“Kita harus mengenali apakah diri kita memiliki riwayat keturunan dalam keluarga sebagai penderita penyakit metabolik. Nah ini harus dilakukan pengecekan agar terhindar dari risiko terserang penyakit jantung koroner,” ujarnya.
Makanya RSKM, dikatakan Rachmat, sebagai salah satu yang merasa berkewajiban dan berperan dalam mengedukasi para tenaga medis agar bisa menangani secara baik para pasien penderita penyakit metabolik sehingga tidak meningkatkan angka kematian mendadak sebab penyakit jantung koroner.
“Dalam simposium (yang digelar RSKM-red) diajarkan dan diinfokan bagaimana para medis menangani penyakit metabolik secara tepat dan benar. Harus ada pendekatan supaya terungkap dalam diri pasien untuk mempermudah penanganan oleh tenaga medis,” tandasnya. (*)



Discussion about this post