CILEGON, BANPOS – Meningkatnya persentase ibu pekerja di Provinsi Banten mendorong Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Banten untuk memperkuat kompetensi para pengasuh anak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Provinsi Banten mencapai 48,90 persen, sementara di Kota Cilegon sebesar 43,26 persen.
Kondisi tersebut menandakan meningkatnya peran perempuan di sektor industri, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam pengasuhan anak bagi keluarga pekerja.
Atas dasar itu, Provinsi Banten, khususnya Kota Cilegon, dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) — layanan pengasuhan anak berbasis keluarga dan komunitas yang terintegrasi untuk mendukung tumbuh kembang anak serta kesejahteraan keluarga, terutama bagi keluarga pekerja di lingkungan industri.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Rusman Efendi, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah perempuan bekerja menuntut adanya tempat penitipan anak yang terjamin dalam mendukung pertumbuhan anak.
“Presentase partisipasi perempuan bekerja semakin meningkat. Nah, dengan peningkatan itu, bahwa ada tempat penitipan anak yang betul-betul dapat menjamin perkembangan dan pertumbuhan anak, dipastikan ada lima pendampingan di TAMASYA tadi,” katanya usai kegiatan Peningkatan Kompetensi Pengasuh TAMASYA dan Kemitraan di Cilegon, Selasa (28/10).
Ia menambahkan, program tersebut juga menjadi upaya dalam memanfaatkan bonus demografi, mengingat mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif.
“Ini adalah untuk memanfaatkan bonus demografi. Artinya, sebagian masyarakat di Indonesia banyak yang produktif daripada nonproduktif,” ujarnya.
Menurut Rusman, peningkatan partisipasi kerja perempuan dapat mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. “Bapaknya bekerja, ibunya bekerja,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para kader Bina Keluarga Balita (BKB) akan memperoleh sertifikasi dalam penerapan pengasuhan positif, stimulasi tumbuh kembang anak, serta pencegahan stunting.
“Pertama, bagi kader-kadernya harus punya kompetensi yang baik dan punya sertifikat. Anak-anak mendapat pendampingan terbaik dari TAMASYA, ketiga orang tua juga mendapat umpan balik dan komunikasi dengan pendidikan, keempat manakala anak-anak yang punya masalah kesehatan dan lainnya sudah ada tempat rujukannya,” jelasnya.
Selain memperkuat kapasitas pengasuh, kegiatan tersebut juga bertujuan mempererat kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam penyelenggaraan layanan pengasuhan anak di lingkungan kerja dan industri.
Dunia industri pun didorong untuk berperan aktif melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) guna mendukung keberlanjutan program TAMASYA.
“Pada hari ini ada sembilan perusahaan besar di Banten yang sudah bekerja sama dengan Kemendukbangga/BKKBN dalam program TAMASYA ini,” ujarnya.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendukbangga/BKKBN, Afiatus Salamah Budi Sdtiyono, menambahkan bahwa program TAMASYA memiliki urgensi besar dalam mewujudkan lingkungan kerja yang ramah keluarga.
“Kegiatan hari ini, TAMASYA, ada sembilan PT yang berkolaborasi dengan Kemendukbangga/BKKBN. Peran kami mencetak pengasuh yang bersertifikasi sesuai dengan kompetensi yang ada di TAMASYA dengan empat layanan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa program tersebut bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan mendukung kesejahteraan keluarga.
“Urgensinya, untuk membuat masyarakat yang bekerja menjadi lebih aman, lebih sehat, dan lebih sayang kepada anaknya di tahun 2045,” katanya.
Afiatus juga mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dengan berbagai perusahaan. “Banyak, itu membantu pelayanan,” tandasnya. (*)



Discussion about this post