Penulis : Fajri Maulana
Warga Provinsi Banten
Judul-judul berita bertebaran di layar ponsel: “Kepala SMA di Banten Tampar Murid Merokok, Proses Dinonaktifkan.” Narasinya sederhana, ada kekerasan di sekolah, ada korban, dan pemerintah menindak. Kasus pun dianggap selesai.
Tetapi di balik satu tamparan itu, sesungguhnya ada cerita yang lebih dalam, yaitu tentang kegelisahan moral, tentang otoritas pendidikan yang kian kehilangan wibawa, dan tentang masyarakat yang semakin gemar menilai tanpa memahami konteks.
Mari kita jujur, menampar murid memang bukan tindakan ideal. Namun mari pula kita jujur dengan sisi lain kenyataan, seorang murid merokok di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, bukan arena pelanggaran etika.
Apa yang dilakukan kepala sekolah itu mungkin salah di mata hukum administratif, tapi sulit untuk dikatakan sepenuhnya salah dalam kacamata moral pendidik yang berjuang menjaga batas antara disiplin dan kelonggaran yang nyaris tak berbatas.
Tamparan itu bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan seorang guru yang melihat nilai-nilai dasar mulai runtuh di hadapannya. Ia mungkin salah cara, tetapi tidak salah niat.
Dalam situasi di mana kata-kata sudah tak lagi didengar dan aturan sekolah dianggap formalitas, banyak guru terjebak dalam dilema yang tak tertulis, bagaimana menegakkan moral tanpa kehilangan kemanusiaan?
Sayangnya, masyarakat kini menilai dengan kaca mata tunggal, setiap tindakan keras otomatis dicap kekerasan, setiap teguran tegas dianggap pelanggaran HAM. Padahal pendidikan sejati tidak lahir dari kelembekan, tetapi dari keseimbangan antara kasih dan ketegasan.
Jika semua bentuk disiplin dianggap kekerasan, maka jangan heran jika sekolah berubah menjadi tempat yang takut menegur, takut menanamkan nilai, dan akhirnya takut mendidik.
Langkah Gubernur Banten Andra Soni yang berencana untuk menonaktifkan kepala sekolah tersebut bisa dipahami sebagai sikap administratif serta bentuk kehati-hatian politik di tengah tekanan publik.
Namun akan menjadi tragis bila tindakan itu berhenti sebagai simbol hukuman, tanpa keberanian meninjau akar masalahnya.
Lemahnya sistem pendisiplinan di sekolah, kerapuhan komunikasi moral antara guru dan murid, serta absennya dukungan negara terhadap pendidik yang berani menegakkan nilai.
Kepala sekolah itu tidak sedang menegakkan kekuasaan; ia sedang mempertahankan martabat pendidikan yang kian pudar. Ia tidak sedang memukul, melainkan berteriak lewat tamparan, bahwa pendidikan telah kehilangan taringnya.
Bahwa wibawa guru sedang sekarat di tangan sistem yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga karakter.
Kita hidup di masa ketika murid bisa melawan guru dengan ponsel, dan setiap tindakan guru bisa dipotong, direkam, lalu diviralkan tanpa konteks. Masyarakat pun segera berperan sebagai hakim digital, sementara niat baik seorang pendidik terkubur dalam opini yang riuh.
Padahal, pendidikan bukanlah panggung untuk memuaskan publik, melainkan ruang sunyi untuk menanamkan nilai kadang dengan kata lembut, kadang dengan teguran keras.
Pada akhirnya, yang perlu kita renungkan bukanlah kerasnya tamparan itu, melainkan lemahnya fondasi moral bangsa ini. Di saat seorang pendidik dipersoalkan karena menegur, sementara pelanggaran murid justru dilupakan, kita sedang menyaksikan terbaliknya logika moral dalam pendidikan.
Tamparan itu seharusnya menggema ke ruang yang lebih luas, ruang kebijakan, ruang keluarga, ruang masyarakat yang kian permisif terhadap perilaku salah.
Mungkin kepala sekolah itu salah langkah. Tapi di tengah kebisingan zaman yang kehilangan arah, ia tetap berani mengambil sikap. Dan keberanian itu meski disalahpahami merupakan sesuatu yang semakin langka dalam dunia pendidikan kita hari ini.
Karena pada akhirnya, tugas seorang pendidik bukan untuk disukai, tapi untuk mendidik. Kadang, cinta kepada murid tidak selalu berbentuk belaian lembut, melainkan teguran yang mengguncang kesadaran. Tamparan itu mungkin keras, tapi barangkali, justru di situlah sisa-sisa nurani pendidikan masih bertahan.










Discussion about this post