LEBAK,BANPOS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat sebanyak 74 warga meninggal dunia akibat penyakit Tuberkulosis (TBC) dari total 4.603 kasus yang ditemukan di wilayah tersebut.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, mengatakan angka tersebut memang masih tinggi, namun menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk tahun ini sampai Oktober 2025 tercatat 4.603 kasus. Tahun lalu sampai Desember ada 5.868 kasus. Mudah-mudahan tidak ada tambahan lagi, sehingga jumlahnya bisa terus menurun,” kata Endang, Senin (6/10/2025).
Berdasarkan catatan Dinkes, kasus TBC terbanyak ditemukan di wilayah selatan Lebak, terutama Kecamatan Cibeber. Endang menjelaskan, penularan langsung dari penderita aktif menjadi penyebab utama penyebaran TBC, terutama di lingkungan rumah dengan sirkulasi udara yang buruk.
“Kuman TBC bisa mati jika terkena sinar matahari. Karena itu, ventilasi rumah harus baik dan jendela sebaiknya dibuka setiap pagi agar sirkulasi udara lancar,” tegasnya.
Untuk menekan angka kasus, Dinkes Lebak kini tengah menggencarkan deklarasi eliminasi TBC dengan menggandeng para kepala desa dan aparatur wilayah. Fokus utama, lanjut Endang, adalah memastikan pasien tidak berhenti minum obat di tengah pengobatan, karena hal itu bisa menyebabkan kekambuhan dan resistansi obat.
“Masyarakat jangan menyepelekan gejala TBC. Kalau sakit, segera berobat ke puskesmas terdekat. Selain itu, jaga kebersihan rumah dan buka ventilasi setiap pagi agar udara tetap sehat,” imbau Endang.
Ia menambahkan, penurunan jumlah kasus bukan menjadi tujuan utama, melainkan eliminasi TBC sepenuhnya pada tahun 2030 sesuai target nasional.
“Yang penting bukan sekadar naik-turunnya angka kasus, tapi bagaimana kita bersama-sama bisa menghapus TBC dari Lebak,” ujarnya.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Lebak, Acep Dimyati, meminta pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pencegahan. “Dinkes harus lebih aktif melakukan sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan TBC agar masyarakat sadar pentingnya menjaga kesehatan lingkungan,” katanya.
Acep menegaskan, persoalan TBC di Lebak tidak bisa sekadar dilihat dari target nasional semata. “Ini bukan soal kejar target 2030, tapi bagaimana angka TBC di Bumi Multatuli tidak lagi mengkhawatirkan, apalagi sampai menimbulkan kematian,” tandasnya. (*)



Discussion about this post