SERANG, BANPOS – Sebanyak 600 personel gabungan, dari Kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, dan instansi terkait lainnya, diterjunkan. Guna mengantisipasi terjadinya bencana alam di semua wilayah Provinsi Banten.
Kapolda Banten Inspektur Jenderal Polisi (Irjenpol) Hengki menuturkan, pihaknya sengaja melakukan gelar apel pasukan dan melibatkan berbagai instansi guna mengantisipasi dan melakukan penanganan darurat ketika terjadi bencana alam.
Personel gabungan itu, kata dia, memiliki tugas untuk melalukan penanganam cepat ketika terjadi bencana banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Dengan begitu, diharapkan bisa menekan kerugian materil dan non materil.
“Apel ini, melibatkan sekitar 600 personel gabungan dari berbagai satuan, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP dan instansi terkait lainnya. Selain itu, seluruh peralatan dan kendaraan taktis juga diturunkan untuk memastikan kesiapan operasional dalam menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan,” katanya, saat memimpin apel gelar pasukan, Kamis (18/9/2025).
Hengki mengatakan, hampir semua wilayah di Provinsi Banten rentan terkena bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan lainnya. Oleh karena itu, para personel gabungan diharapkan bisa mengoptimalkan pencegahan dan penanganan cepat.
“Kita menyadari bersama bahwa Indonesia, termasuk Provinsi Banten, merupakan wilayah rawan bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga letusan gunung berapi,” tambahnya.
“Oleh karena itu, melalui apel ini kita melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap kesiapan personel, sarana, prasarana, serta kemampuan operasional agar tercipta sinergitas dan koordinasi yang optimal,” sambungnya.
Hengki berpesan kepada para personel gabungan itu, agar bisa terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, baik secara individu maupun institusi. Selain itu, lanjutnya, bangun partisipasi publik melalui penyuluhan dan sosialisasi, terutama kepada masyarakat di wilayah pesisir yang rawan tsunami.
“Perkuat komunikasi dan sinergitas antarinstansi, hilangkan ego sektoral dalam penanganan bencana. Dan keempat, tingkatkan kemampuan personel serta kesiapan peralatan agar selalu siap digunakan kapan pun dibutuhkan,” ujarnya.
Hengki berharap, dengan diterjunkannya ratusan personel ganungan itu bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Masyarakat, kata dia, juga harus bisa segera memberikan laporan apabila terjadi bencana alam, karena tidak bisa diprediksi.
“Semoga bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan perlindungan terbaik bagi masyarakat. Mari kita jadikan sinergi, kebersamaan, dan semangat gotong royong sebagai kekuatan utama dalam menjaga keselamatan rakyat,” tuturnya.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, penanganan bencana alam bukan hanya semata tugas pemerintah, melainkan semua pihak termasuk masyarakat. Meski demikian, porsi pemeritnah dalam menangani bencana alam jauh lebih besar.
“Kegiatan ini sangat penting sebagai upaya membangun kewaspadaan dini, mitigasi risiko, serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana. Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, instansi terkait, hingga relawan kebencanaan,” pungkasnya.
Andra mengaku, Pempriv Banten bersama pihak terkait telah melakukan pemetaan dan beberapa antispasi apabila terjadi bencana alam. Tindakan itu dilakukan sebagai upaya menekan atau meminimalisir kerugian materil dan non materil.
“Kita tentu tidak mengharapkan adanya bencana, namun pemetaan potensi, simulasi penanggulangan, hingga mekanisme tanggap darurat dan pemulihan harus selalu disiapkan. Semoga segala upaya kita mendapat ridho Allah SWT dan mampu memberikan perlindungan terbaik bagi masyarakat,” imbuhnya. (*)



Discussion about this post