TANGSEL, BANPOS – Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 Kota Tangerang Selatan yang baru saja diresmikan pada 15 Agustus 2025 lalu, mengadapi rintangan berat. Baru berjalan sebulan 9 murid dari 150 murid memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah tersebut.
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas 33 Tangsel, Gina Intana Dewi, mengungkapkan penyebab para murid mengundurkan diri ialah mayoritas dari latar belakang keluarga dengan tingkat kerentanan sosial dan ekonomi tinggi
“Yang pasti dari sembilan orang yang sudah mengundurkan diri, sudah kami assessment dengan sangat maksimal. Kami punya guru BK yang sangat mumpuni melakukan assessment psikologis kepada mereka,” ujarnya dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI, Rabu (17/9/2025).
Para siswa yang keluar berasal dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Tangerang, Pandeglang, Cilegon, Kota Serang, dan Tangerang Selatan. Koordinasi dengan Dinas Sosial, Pendamping PKH, dan pihak keluarga terus dilakukan untuk memastikan keselamatan dan pendampingan lanjutan bagi siswa-siswa tersebut.
“Karena kebetulan sembilan siswa kami dari kota yang berbeda dan jaraknya itu sangat jauh. Ada yang di Cilegon, di Pandeglang, di Kabupaten Tangerang. Sehingga kami bekerjasama dengan PKH dan Dinas Sosial untuk asesmen mereka ketika mereka yang kabur dari sini ke rumahnya,” katanya.
Gina melanjutkan, dari keseluruhan jumlah siswa yang mengundurkan diri memiliki permasalahan yang berbeda. Menurutnya, tantangan pendidikan di SRMA 33 tidak hanya sebatas pengajaran akademik, melainkan juga rehabilitasi sosial dan karakter.
“Ada yang memang dijemput orang tuanya, ada yang memang pulang sendiri tanpa sepengetahuan kami. Dan kami selalu berkoordinasi dengan Dinas Sosial, juga PKH,” jelasnya.
Gina menyampaikan, para siswa yang yang merupakan dari keluarga miskin ekstrem mempunyai kompleksitas yang beragam. Kata dia, proses belajar mengajar yang baru berjalan satu bulan, masing-masing mereka sudah memiliki beban psikologis.
“Artinya dari segi sosial, ekonomi maupun psikologis mereka itu sedikit spesial ya. Karena dari apa yang sudah kami alami mendidik mereka dalam satu bulan, ternyata mereka sudah membawa beban psikologis dari keluarganya,” katanya.
“Karena banyak dari mereka itu yang yatim, ditinggalkan orang tua, ataupun berasal dari keluarga yang broken home atau bahkan yatim piatu, banyak sekali seperti itu,” sambung Gina.
Dalam rapat evaluasi bersama perwakilan DPR, muncul masukan agar pendekatan awal kepada siswa lebih mengedepankan adaptasi lingkungan dan pembentukan karakter sebelum dibebani kurikulum akademik berat. (*)

Discussion about this post