JAKARTA, BANPOS – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke puskesmas apabila mengalami batuk berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh, sebab kondisi tersebut berpotensi menjadi tuberkulosis (TB).
“TB dapat terdeteksi melalui pemeriksaan dahak akibat batuk. Jadi kalau ada gejala batuk yang berlangsung lama, warga bisa segera datang ke puskesmas atau rumah sakit,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Arif Syaiful Haq, dalam Sosialisasi Stop Tuberkulosis (TB) di Jakarta, Rabu (3/9).
Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan dahak dilakukan dengan metode tes cepat molekuler. Dalam prosesnya, petugas kesehatan mengambil dua kali sampel dahak, yakni saat pasien pertama kali datang ke fasilitas kesehatan dan keesokan harinya setelah pasien bangun tidur.
“Jadi ketika datang ke puskesmas, dahak langsung diambil, lalu pasien dibekali pot dahak. Keesokan paginya dahak saat bangun tidur dikumpulkan dan diserahkan kembali ke puskesmas untuk diperiksa,” jelas Arif.
Ia menambahkan bahwa pengambilan dahak juga bisa dilakukan sewaktu-waktu dengan jarak minimal satu jam.
Selain itu, Arif turut memaparkan cara mengeluarkan dahak yang benar, yakni dengan menarik napas dalam sebanyak tiga kali, lalu mengeluarkannya secara sentakan agar dahak dari paru-paru bisa keluar. Dahak yang sehat biasanya berwarna putih, kekuningan, atau kehijauan, dengan tekstur lebih kental dibanding air liur.
Jika pasien kesulitan mengeluarkan dahak, disarankan melakukan aktivitas ringan terlebih dahulu, seperti lari kecil di tempat atau minum teh hangat.
“Kalau masih sulit, tenaga kesehatan di puskesmas bisa membantu agar pasien dapat mengeluarkan dahak dengan benar,” paparnya.
Berdasarkan data Dinkes per Juli 2025, jumlah kasus TB di Jakarta mencapai 36.825 kasus. Dari jumlah tersebut, 676 di antaranya merupakan TB resistan obat (RO), yakni TB yang kebal terhadap obat lini pertama sehingga membutuhkan pengobatan berbeda, lebih lama, serta lebih kompleks dibandingkan TB biasa. (*)


Discussion about this post