SERANG, BANPOS – “Don’t give up! Jangan menyerah!” Kata-kata dari motivator kondang itu terus tersimpan di memori Nur Agis Aulia hingga sekarang dan menjadi prinsip hidupnya.
Ketika pertama kali mendengar ucapan motivasi itu, Agis masih berstatus mahasiswa sekitar 15 tahun lalu.
Berkat prinsip pantang menyerah tersebut, ia kini berhasil menduduki posisi Wakil Wali Kota Serang, sebuah jabatan publik yang prestisius bagi seseorang yang berasal dari keluarga biasa.
Sebelumnya, ia pernah menjadi karyawan BUMN lalu beralih menjadi wiraswasta dengan mendirikan peternakan kambing bernama Jawara Farm, yang sukses memberdayakan ratusan peternak dan meningkatkan taraf ekonomi mereka.
“Semua berawal dari mimpi untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan. Ini menjadi narasi besar saya,” ujarnya.
Perjalanan politik Agis dimulai tahun 2019, saat ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Serang periode 2019–2024. Tidak berhenti di situ, ia maju bersama Budi Rustandi di Pilkada 2024 dan berhasil memenangkan kontestasi.
“Kalau di Jawara Farm saya bisa membantu 500 orang, di DPRD bisa puluhan ribu. Jadi Wakil Wali Kota, saya targetkan ratusan ribu bahkan jutaan orang bisa saya bantu melalui kebijakan. Ini lompatan saya untuk melipatgandakan kebaikan,” paparnya.
Agis lahir di Serang, 21 April 1989, dari keluarga sederhana. Ayahnya ASN golongan rendah, ibunya ibu rumah tangga.
Setelah menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Serang, ia melanjutkan kuliah di FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia meninggalkan pekerjaannya di BUMN Jakarta demi pulang kampung mengembangkan potensi daerah.
Menurutnya, tingginya kemiskinan dan pengangguran di desa bukan karena minimnya SDM, melainkan potensi yang belum dioptimalkan.
Dari situlah ia melihat peluang di sektor agroindustri, khususnya peternakan kambing dan domba.
“Selama manusia belum bisa makan batu, plastik, atau kertas, juga selama ibadah kurban bukan menyembelih ayam atau kelinci, maka potensi pasar peternakan akan selalu besar,” ujarnya.
Networking Menjadi Kunci
Keberhasilan Agis tak lepas dari jaringan yang ia bangun sejak kuliah. Ia aktif di koperasi mahasiswa, rajin mencari beasiswa, hingga akhirnya lolos program beasiswa Tanoto Foundation.
Dalam program itu, ia bukan hanya mendapat bantuan biaya kuliah, tapi juga berbagai pelatihan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan membangun jejaring.
“Networking itu kata kunci untuk bisa berjuang di dunia penuh tantangan. Kalau ingin betul-betul bertumbuh, kata kuncinya membangun networking agar bisa terjalin kolaborasi dan pertumbuhan lebih cepat,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang membekas adalah saat mengikuti camp kepemimpinan di Bogor bersama Tanoto Scholars dari seluruh Indonesia.
“Di situ kita belajar mengendalikan ego, dimotivasi untuk jadi leader yang menciptakan perubahan serta dampak positif,” paparnya.
Pendaftaran Beasiswa Tanoto Foundation TELADAN Dibuka
Tanoto Foundation saat ini membuka pendaftaran Beasiswa TELADAN angkatan 2026 di 10 perguruan tinggi negeri.
Penerima akan mendapatkan beasiswa penuh, tunjangan biaya hidup, serta pelatihan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun.
Selain itu, Tanoto Scholars berkesempatan mengikuti kompetisi, konferensi, sertifikasi, program pertukaran, hingga magang di industri mitra.
Mereka juga tergabung dalam komunitas Tanoto Scholars Association dan jaringan alumni global Tanoto Foundation.
Program TELADAN juga terbuka bagi mahasiswa penerima KIP-K semester pertama. Informasi lebih lanjut dapat diakses di: bit.ly/JadiTELADAN2026. (*)





Discussion about this post