JAKARTA, BANPOS – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengingatkan kepada masyarakat bahwa gas air mata berbahaya bagi kesehatan apalagi sampai terhirup masuk ke dalam paru-paru.
“Secara umum gas air mata dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata dan paru serta saluran pernapasan,” kata Ketua Majelis Kehormatan PDPI Prof. Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Prof. Tjandra menyatakan gas air mata mengandung beberapa bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh, seperti chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), hloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).
Kandungan kimia yang masuk ke dalam paru dapat berisiko gejala akut dalam paru dan saluran napas yang berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas.
Dalam keadaan tertentu bahkan seseorang bisa mengalami gawat napas atau respiratory distress.
Orang yang memiliki penyakit seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), gas air mata dapat menimbulkan serangan sesak napas akut yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas (respiratory failure).
Dampak lainnya akan merasa seperti terbakar di bagian mata, mulut dan hidung. Orang yang terkena gas itu bisa pula mengalami pandangan kabur dan kesulitan menelan.
“Juga dapat terjadi semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi,” kata Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.
Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI di bidang kesehatan ikut mengingatkan meski dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan.
“Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup,” ujar Prof. Tjandra.
Ia menekankan bahwa tingkat risiko kesehatan dari gas air mata bergantung dengan besarnya dosis gas yang mengenai tubuh, kepekaan terhadap zat kimia dalam gas yang mungkin dapat memunculkan gangguan kesehatan tertentu bagi yang terpapar, serta lokasi paparan gas terjadi, baik di ruang tertutup atau terbuka.
“Semakin besar paparannya tentu akan makin buruk akibatnya. Demikian juga dampaknya akan bergantung bagaimana aliran udara yang membawa gas beterbangan, apakah ada kebetulan ada angin kencang ketika ada gas air mata,” ucapnya. (*)



Discussion about this post