CILEGON, BANPOS – Kabar adanya siswa SMPN 1 Kota Cilegon yang disebut keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bersama Gratis (MBG) dibantah pihak sekolah.
Informasi yang sempat beredar di kalangan masyarakat itu dinilai tidak benar atau hoaks.
Sebelumnya, tersiar kabar bahwa seorang siswa SMPN 1 mengalami sakit perut usai menyantap makanan MBG yang diduga basi.
Kabar tersebut sempat menimbulkan keresahan, mengingat program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi pelajar di Kota Cilegon.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus penanggung jawab kegiatan MBG, Euis Wartini, menegaskan isu tersebut tidak sesuai fakta.
“Justru hari ini hari yang menyenangkan bagi anak-anak karena menunya sesuai dengan selera mereka,” kata Euis saat ditemui di SMPN 1 Cilegon, Rabu (27/8).
Menurut Euis, siswa yang pulang dalam kondisi sakit tidak ada kaitannya dengan makanan MBG. Ia menjelaskan, ada siswa yang sudah mengalami demam sejak dari rumah.
Sementara itu, satu siswa lain yang mengalami sakit perut pulang sebelum makanan MBG sempat dibagikan.
“Hanya ada satu anak yang sakit perut, itu pun bukan karena MBG. Kejadiannya juga terekam video, sehingga bisa dipastikan tidak benar jika dikaitkan dengan makanan MBG,” ujarnya.
Euis juga memastikan bahwa kualitas makanan MBG aman untuk dikonsumsi para siswa.
Bahkan, sebelum dibagikan, dirinya kerap mencoba lebih dulu untuk memastikan tidak ada masalah.
“Sayurnya tidak basi. Hari pertama memang dimasukkan ke dalam kotak saat masih panas, sehingga agak lengket, tetapi tidak basi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Euis menjelaskan bahwa distribusi MBG di SMPN 1 Cilegon baru dimulai pada Senin 25 Agustus 2025.
Pada hari pertama, pengiriman makanan mengalami kendala karena datang terlambat. Kendala serupa kembali terjadi pada hari kedua.
Namun, pada hari ketiga Rabu (27/8), pengiriman makanan sudah dilakukan lebih pagi, sekitar pukul 07.30 WIB, dengan jumlah 784 kotak.
“Sejak awal, kami juga langsung melakukan evaluasi, termasuk terkait menu yang disajikan. Tujuannya agar program ini benar-benar berjalan baik dan memberikan manfaat bagi siswa,” ucapnya.
Ia menambahkan, pihak sekolah terbuka jika ada masukan dari siswa maupun orang tua terkait menu maupun kualitas makanan.
“Kalau ada yang merasa ragu dengan makanan yang dibagikan, kami minta jangan dimakan, langsung sampaikan ke guru atau pihak sekolah, dan biasanya saya coba dulu untuk memastikan,” ungkapnya.
Hingga saat ini, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) belum hadir ke sekolah untuk melakukan pengecekan.
Namun, aparat keamanan, termasuk kepolisian dan intelijen, telah mendatangi lokasi untuk memantau situasi sekaligus memastikan tidak ada gangguan dalam pelaksanaan program MBG. (*)



Discussion about this post