TANGSEL, BANPOS – Peristiwa nahas dialami oleh NE, seorang anak perempuan asal Tangerang Selatan (Tangsel).
Pasalnya, ia mengalami luka-luka di tubuhnya, lantaran diduga dianiaya oleh ibu tirinya. Bahkan, telinga sang anak disebut mengalami luka robekan.
Kondisi itu terkuak setelah guru sekolah NE melapor ke Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Kepala UPTD PPA Tangsel, Tri Purwanto, membenarkan adanya kasus tersebut.
Ia menyampaikan bahwa setelah adanya laporan itu, pihaknya langsung mengevakuasi korban ke rumah aman untuk dilakukan penanganan.
”Iya ada kekerasan, kekerasan itu laporan dari gurunya,” ujar Tri saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (11/8).
Tri melanjutkan, laporan itu diterima pada Selasa (5/8) kemarin.
Menurutnya, NE yang masih duduk dibangku sekolah dasar itu saat ini sudah menjalani konseling pertama.
Selama proses pemantauan, NE tidak dipulangkan dan sementara waktu tinggal di rumah aman.
“Iya anaknya saat ini sedang kita konseling,” sebutnya.
Tri menjelaskan, soal adanya tindakan penganiayaan hingga mengalami luka oleh sang ibu tiri, dirinya tidak menampik hal itu.
Bahkan, UPTD PPA Tangsel telah melakukan pemanggilan terhadap ibu tiri NE.
“Lukanya luka akibat jeweran di kuping, tapi kan itu robek makanya itu kita amanin terus. Yang paling banyak di kuping tapi saya belum melihat lagi sih luka-luka ini,” jelasnya.
Tri menerangkan, sang ibu tiri mengaku bahwa korban mendapatkan perlakuan tidak benar itu lantaran geram dengan korban.
“Kalau versi mereka ini anak lemot, disuruh ini itu lama. Baru kita panggil kemarin orang tuanya. Orang tuanya datang ke sini jadi kita edukasi,” terangnya.
Tri menuturkan bahwa untuk beberapa waktu ke depan, NE akan tinggal di rumah aman dalam waktu yang tidak ditentukan.
Tindakan itu dilakukan lantaran NE harus kembali menjalani konseling.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, NE sudah lama mengalami perlakuan serupa oleh ibu tirinya. Masih dibutuhkan waktu untuk mengetahui hasil konseling NE secara rinci. (*)

Discussion about this post