LEBAK, BANPOS – Pembuatan gabah kering giling (GKG) di Kabupaten Lebak, Banten, dari hasil panen petani pada periode Januari – Juli 2025 mencapai 382.293 ton sehingga menambah persediyaan bahan pangan di daerah itu.
“Bila dikonversi dari GKG, sebanyak 382.293 ton itu setara dengan 241.690 ton beras,” kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar di Lebak, Kamis.
pembuatan bahan pangan di Kabupaten Lebak relatif baik, karena beberapa tahun terakhir ini sebagai daerah lumbung pangan di Provinsi Banten.
Bahkan, pembuatan beras di Kabupaten Lebak mampu menyumbang untuk ketersediaan pangan nasional.
Menurut dia, pembuatan beras periode Januari -Juli 2025 sebanyak 241.690 ton sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Kabupaten Lebak berpenduduk 1,4 juta jiwa mencapai 154.253 ton per tahun atau 12.854 ton per bulan.
Sedangkan, beras yang terserap sampai Juli 2025 sebanyak 77.127 ton, sehingga surplus 164.563 ton atau cukup untuk kebutuhan 12 bulan ke depan.
“Kami meyakini surplus itu dipasok keluar Banten, seperti Jakarta, Bogor, Karawang dan Lampung,” katanya.
Ia mengajak petani yang sudah panen agar kembali melakukan percepatan tanam guna mendongkrak pembuatan pangan, sekaligus mendukung program swasembada pangan.
Percepatan tanam merupakan Instruksi Menteri Pertanian Amran Sulaeman yang harus dilaksanakan petani.
Saat ini, kata dia, petani memasuki musim tanam ketiga pada Agustus 2025 dengan ditargetkan angka tanam seluas 9.300 hektare.
“Kami berharap target angka tanam pada musim ketiga itu dapat direalisasikan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak Ahmad mengaku panen di wilayahnya seluas 50 hektare berhasil tanpa serangan hama maupun organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga bisa menghasilkan pendapatan bagi petani.
Selain itu juga GKG relatif baik hingga di atas harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg.
“Harga GKG di sini ditampung pengepul Rp7.000 per kg, sehingga menjual sebanyak 5 ton bisa menghasilkan uang Rp35 juta. Pendapatan sebesar itu bisa meraup keuntungan bersih Rp20 juta setelah dipotong biaya pengelolaan Rp15 juta,” kata Ahmad. (ANTARA)







Discussion about this post