JAKARTA, BANPOS – Pertemuan penting yang berlangsung di Istana Merdeka baru-baru ini menggarisbawahi betapa strategisnya keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam peta pembangunan nasional.
Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung pertemuan tersebut, didampingi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dan sejumlah menteri lainnya, guna mengevaluasi capaian dan kendala dari implementasi KEK di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa total investasi yang masuk ke KEK selama periode Januari hingga Desember 2024 mencapai Rp90,1 triliun, jauh melampaui target yang telah ditetapkan sebesar Rp78,1 triliun.
Dan sebagaimana dilaporkan juga oleh Sri Mulyani, hingga pertengahan 2025 ini, Indonesia telah memiliki 25 KEK aktif dengan total investasi yang telah masuk sebesar Rp263,4 triliun, dan berhasil menyerap lebih dari 160.000 tenaga kerja. Dari berbagai sektor strategis yang hadir di KEK, seperti hilirisasi tambang, industri kimia, logistik, digital teknologi, dan pariwisata menempati posisi penting, baik sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi berbasis jasa maupun sebagai kanal pemerataan pembangunan antardaerah.
Namun demikian, Presiden Prabowo memberi arahan tajam: KEK Indonesia masih terlalu kecil dan terbatas dibanding negara-negara ASEAN lain. Maka ia mendorong agar KEK diperluas, namun harus tetap memberi manfaat maksimal bagi rakyat dan menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
A. KEK Pariwisata: Laboratorium Ekonomi Inklusif Berbasis Potensi Lokal
Dari 25 KEK yang aktif, 10 di antaranya berorientasi pada sektor pariwisata. Kawasan ini bukan hanya zona investasi, tetapi juga mesin transformasi regional yang berpotensi menyatukan perekonomian rakyat, teknologi modern, dan kekayaan budaya Nusantara.
Berikut adalah 10 KEK Pariwisata yang telah ditetapkan pemerintah:
1. KEK Mandalika (NTB)
Ikon sport tourism Indonesia yang telah mendunia melalui MotoGP dan World Superbike. Dengan luas 1.035 ha, kawasan ini menjadi pusat investasi pariwisata terbesar di luar Bali. Namun tantangan agraria dan ketergantungan pada event besar menjadi pekerjaan rumah yang perlu diantisipasi dengan diversifikasi destinasi.
2. KEK Likupang (Sulawesi Utara)
Kawasan dengan kekayaan laut dan keindahan alam yang luar biasa. Meski masuk dalam proyek strategis nasional, realisasi investasinya masih stagnan akibat aksesibilitas terbatas dan lemahnya branding kawasan.
3. KEK Tanjung Kelayang (Bangka Belitung)
Ditargetkan sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia. Meski sudah mendapat perhatian investor, realisasi pembangunan lambat dan kunjungan wisatawan belum signifikan. Konektivitas internasional seperti penerbangan langsung dari Singapura bisa jadi game-changer.
4. KEK Tanjung Lesung (Banten)
Diharapkan menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan dari Jabodetabek. Tantangan terbesar adalah kerentanan bencana tsunami dan belum optimalnya infrastruktur dasar serta keterlibatan masyarakat lokal.
5. KEK Nongsa (Batam, Kepulauan Riau)
KEK unik karena menggabungkan digital economy zone dan resor wisata. Didukung oleh lokasi strategis dekat Singapura dan pelabuhan internasional, KEK ini memiliki potensi besar sebagai simpul ekonomi kreatif dan pariwisata MICE.
6. KEK Lido (Bogor, Jawa Barat)
Model KEK pariwisata modern terpadu. Menggabungkan taman hiburan, resort, dan kawasan film industri. Diharapkan menjadi alternatif baru wisata keluarga dan edukatif kelas atas bagi masyarakat urban Jabodetabek.
7. KEK Singhasari (Malang, Jawa Timur)
Menarik karena menonjolkan unsur budaya dan teknologi. Fokus pada digital tourism dan cultural heritage menjadikannya unik di antara KEK lain. Potensial menjadi pusat pengembangan talent hub di bidang ekonomi kreatif.
8. KEK Sanur (Bali)
Simbol revitalisasi kawasan bersejarah di Bali menjadi pusat medical tourism. Proyeksi investasi sebesar Rp6,2 triliun dan penyerapan tenaga kerja mencapai 18.000 orang. Ini memperkuat positioning Bali sebagai destinasi unggulan Asia Tenggara.
9. KEK Kura-Kura Bali (Denpasar)
Kawasan inovatif berbasis eco luxury island. Target investasi Rp104 triliun hingga 2052 dan devisa USD31,8 miliar. Menggabungkan edukasi internasional, wellness center, dan marina. Ini adalah wajah masa depan pariwisata kelas premium Indonesia.
10. KEK Morotai (Maluku Utara)
Kawasan penuh nilai sejarah Perang Dunia II dan keindahan bawah laut yang eksotis. Tantangan aksesibilitas dan energi masih menjadi kendala. Tetapi potensi sebagai gateway pariwisata timur Indonesia tetap tinggi.
B. Tantangan Struktural dan Peluang Strategis
Kendati memiliki potensi besar, sebagian besar KEK Pariwisata masih menghadapi kendala klasik: keterlambatan pembangunan infrastruktur, lambatnya realisasi investasi, hingga minimnya pelibatan masyarakat lokal. Bahkan dalam laporan resmi Tim PKN II Lemhanas, beberapa KEK pariwisata disebut “sepi investor” dan perlu redesain insentif serta pemetaan ulang peran pemda.
Namun, inilah saatnya menjadikan tantangan sebagai momentum perbaikan. Dengan kepemimpinan yang kuat, komitmen lintas kementerian, dan pemanfaatan big data dalam ekosistem pariwisata, KEK dapat dikembangkan sebagai:
1. Pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa
2. Model integrasi antara industri pariwisata dan ekonomi kreatif
3. Katalis pemerataan pembangunan dan pengurangan pengangguran daerah
4. Lumbung devisa berkelanjutan berbasis ekonomi hijau
C. Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah dan Pemangku Kepentingan
1. Dorong percepatan konektivitas dan logistik kawasan
– Akses transportasi udara, laut, dan darat harus menjadi prioritas untuk semua KEK Pariwisata, terutama di kawasan timur seperti Morotai dan Likupang.
2. Terapkan insentif fiskal dan non-fiskal yang agresif namun selektif
– Berikan stimulus untuk investor sektor pariwisata berkualitas, bukan hanya berbasis volume, tapi nilai tambah dan keberlanjutan.
3. Perkuat SDM lokal dan pelibatan UMKM dalam rantai pasok kawasan
– Pastikan masyarakat sekitar KEK menjadi bagian dari proses tumbuhnya kawasan, bukan hanya menjadi penonton atau buruh temporer.
4. Kembangkan model promosi kawasan secara terpadu nasional
– KEK Pariwisata perlu branding tunggal dan digitalisasi terpadu untuk menyasar pasar global secara efektif.
5. Evaluasi dan desain ulang KEK yang stagnan
– Tidak semua KEK harus dipertahankan bila tak kunjung produktif. Lakukan realokasi atau transformasi fungsi kawasan jika perlu.
D. KEK Pariwisata dan Misi Ekonomi Indonesia Baru
Arahan Presiden Prabowo Subianto agar KEK diperluas dan dimaksimalkan kebermanfaatannya merupakan sinyal kuat bahwa pendekatan pembangunan kini akan lebih berani, terukur, dan berpihak pada rakyat. KEK Pariwisata tidak boleh menjadi menara gading, tetapi harus menjadi ruang nyata bagi masyarakat lokal untuk tumbuh, berinovasi, dan sejahtera.
Pariwisata di era Prabowo bukan lagi semata wajah budaya dan keindahan alam, melainkan wajah ekonomi bangsa: mandiri, terintegrasi, dan inklusif. (RM.ID)


Discussion about this post