JAKARTA, BANPOS – Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa erat kaitannya dengan momentum penting yang mencerminkan keyakinan manusia kepada Tuhan yang tunggal, dan tidak ada duanya.
Momen itu salah satunya pada Idul Adha yang bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ibadah kurban merupakan simbol pengorbanan, ketulusan dan kepatuhan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai kurban ini sesungguhnya sangat sejalan dengan Pancasila
Kita tidak boleh lupa bahwa sila pertama adalah fondasi dari seluruh sila lainnya. Dalam sila ini, negara menjamin bahwa setiap warga memiliki kebebasan dan hak untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing tanpa paksaan, serta dalam semangat toleransi.
Saya memandang ibadah kurban sebagai bentuk nyata pengamalan sila pertama. Ini adalah bagian dari konsistensi umat Islam untuk terus memperkuat spiritualitas, memperdalam ketauhidan, dan memperkuat hubungan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta.
Kurban bukan sekadar ritus fisik, melainkan bentuk penyadaran diri bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab spiritual di tengah tugasnya sebagai khalifah di bumi.
Namun, ibadah kurban juga tidak berhenti di hubungan vertikal. Ia juga mengandung makna horizontal, yaitu hubungan antar sesama manusia.
Di sinilah sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menemukan relevansinya. Daging kurban yang dibagikan ke masyarakat luas, terutama bagi mereka yang membutuhkan, adalah ekspresi dari solidaritas sosial, pemerataan kesejahteraan, dan semangat gotong royong yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia.
Ibadah kurban menyadarkan kita bahwa kesejahteraan bukan hanya untuk yang mampu, tetapi juga harus dirasakan oleh yang kurang mampu. Ini bukan tentang jumlah sapi atau kambing, tetapi tentang kesadaran untuk berbagi, tentang keikhlasan, dan tentang menghadirkan rasa keadilan dalam kehidupan masyarakat kita.
Saya berharap praktik ibadah kurban yang sudah menjadi tradisi di Indonesia ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimaknai ulang sebagai instrumen penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa.
Untuk itulah, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai lembaga negara yang diberi mandat untuk membumikan Pancasila, memiliki tugas penting dalam memperkuat narasi-narasi seperti ini.
Rekan-rekan BPIP, marilah kita lebih aktif lagi merespons momen-momen keagamaan dengan pendekatan kebudayaan dan ideologi, seperti mengaitkan ibadah kurban dengan penguatan Pancasila.
Saya juga mendorong BPIP membangun narasi kebangsaan yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, seperti makna ibadah kurban dalam memperkuat solidaritas dan keadilan sosial.
Caranya dengan menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, dan figur publik. Agar pesan-pesan Pancasila lebih membumi di tengah masyarakat, tidak berhenti di ranah akademik atau institusional.
Mengembangkan program edukatif berbasis momen-momen penting keagamaan juga bisa menjadi ruang refleksi dan penguatan ideologi Pancasila secara kontekstual.
Karena pada akhirnya, Pancasila bukan hanya slogan. Ia hidup dan tumbuh melalui praktik-praktik sosial yang dekat dengan keseharian rakyat, seperti ibadah kurban.
Mari kita jadikan Pancasila sebagai roh dari setiap tindakan kita, baik dalam ibadah, bermasyarakat, maupun bernegara. Ingatlah wahai saudaraku, bangsa yang besar adalah bangsa yang bukan hanya memiliki ideologi, tetapi juga menghidupkannya dalam setiap detak jantung kehidupan rakyatnya.
*Penulis adalah komedian, Wakil Ketua Komisi VI DPR dan Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN). (RM.ID)

Discussion about this post