CILEGON, BANPOS – Kelanjutan pembangunan Gedung Medical Center RSUD Cilegon lima lantai terancam mangkrak.
Meski struktur bangunan eksterior telah selesai, pembangunan tahap kedua yang mencakup pengerjaan interior dan fasilitas medis hingga kini belum memiliki kepastian anggaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon.
Padahal, keberadaan gedung ini sangat krusial untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan kesehatan di kota tersebut.
Direktur RSUD Kota Pemkot, Lendy Delyanto, mengungkapkan bahwa pembangunan tahap kedua awalnya direncanakan membutuhkan dana sekitar Rp28 miliar.
Namun informasi terakhir yang diterimanya menyebut adanya kebijakan efisiensi anggaran, sehingga alokasi dana tersebut masih belum jelas.
“Semula kami dapat info Rp28 miliar, tapi belakangan muncul kabar efisiensi. Jadi saya sendiri ragu apakah bisa selesai di tahap dua. Padahal kalau sesuai rencana awal, total kebutuhan masih sekitar Rp50 miliar lagi,” ujar Lendy saat ditemui di Kantor Walikota Kota Cilegon, Selasa (8/4/2025).
Gedung lima lantai itu sebelumnya ditargetkan menjadi pusat layanan terpadu (Medical Center) yang akan memperkuat layanan unggulan RSUD, termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap dan layanan penunjang medis. Namun saat ini, bagian dalam bangunan masih kosong dan belum bisa dimanfaatkan.
Lendy mengatakan, bila anggaran tersedia penuh, pembangunan bisa dimulai pada Mei 2025 dan selesai dalam tujuh bulan.
“Kalau anggaran bisa dikucurkan full, awal 2026 sudah bisa difungsikan. Tapi kalau tidak, bisa mundur lagi. Kita menyesuaikan dana tetap mematuhi aturan pengadaan yang berlaku,” ujarnya.
Dalam kondisi ketidakpastian ini, RSUD Cilegon tengah mengkaji kemungkinan penyelesaian pembangunan secara bertahap. Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah menyelesaikan lantai satu terlebih dahulu, yang akan difungsikan sebagai IGD baru.
“IGD lama itu sekarang sudah tidak cukup luas dan kurang representatif. Kalau lantai satu bisa dikerjakan lebih dulu, IGD bisa segera direlokasi. Minimal layanan darurat bisa langsung meningkat,” jelas Lendy.
Ia juga mempertimbangkan penyesuaian landscape dan perbaikan lahan parkir agar akses masyarakat ke rumah sakit lebih baik. Namun semua itu bergantung pada fleksibilitas anggaran dan izin dari kepala daerah.
Menurut Lendy, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa bangunan yang telah berdiri megah tersebut berisiko mangkrak apabila tidak ada kejelasan pendanaan dalam waktu dekat.
Selain berpotensi menambah beban anggaran pemeliharaan, bangunan kosong juga dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusakan dini akibat tidak difungsikan.
“Sayang sekali kalau bangunannya sudah rapi dari luar tapi dibiarkan lama tidak digunakan. Kita khawatir ada kerusakan dini kalau tidak segera difungsikan,” katanya.
Selain itu, penundaan pembangunan berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan kepada masyarakat. RSUD Cilegon saat ini masih menghadapi keterbatasan ruang layanan dan fasilitas medis, terutama untuk kasus darurat dan layanan rawat inap.
Sebagai informasi, proyek pembangunan Gedung Medical Center RSUD Cilegon ini telah dirancang sejak 2023 dengan total kebutuhan anggaran sebesar Rp107 miliar.
Pada tahap pertama, RSUD mendapat alokasi anggaran sebesar Rp55 miliar, namun setelah melalui proses lelang dan negosiasi, hanya diserap sebesar Rp50 miliar.
“Jadi seharusnya kebutuhan tahan dua sekitar Rp50 miliar lagi. Tapi karena belum ada kejelasan anggaran, kami juga tidak bisa memastikan kapan tahap dua bisa dimulai,” ucap Lendy. (LUK/PAY)




Discussion about this post