CILEGON, BANPOS – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon mengakui bahwa minimnya tempat sampah menjadi salah satu kendala utama dalam pengelolaan sampah di Kota Baja.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan dan Pengawasan Sampah pada DLH Kota Cilegon, Muhriji menyebutkan bahwa meskipun teknologi pengolahan sampah di hilir sudah tersedia, masalah di hulu masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
“Di hilir, kita sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kapasitas 200 ton yang sedang dibangun. Selain itu, TPST berkapasitas 30 ton yang bekerja sama dengan IP dan PLN juga sudah berjalan. Namun, di hulu masih banyak sampah berserakan karena masyarakat belum sepenuhnya patuh dalam membuang sampah pada tempatnya,” kata Muhriji kepada BANPOS saat ditemui disela melaksanakan kurvey dalam rangka merapihkan pohon-pohon di sepanjang tugu selamat datang dekat pintu Tol Cilegon Timur sampai lampu merah PCI, Kamis (6/3/2025).
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menjadi kendala dalam penanganan sampah di Cilegon. Salah satu masalah utama adalah kurangnya tempat sampah di lingkungan warga.
DLH berharap adanya dukungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappedalitbang) untuk pengadaan tempat sampah, terutama setelah adanya kebijakan pusat yang mengalokasikan 3 persen dari APBD untuk sektor persampahan.
“Cilegon memiliki 141 ribu kepala keluarga. Ke depannya, pengadaan tempat sampah akan dilakukan secara bertahap, misalnya dengan skema tiga rumah berbagi satu tempat sampah sebelum diperbanyak lagi,” tuturnya.
Selain tempat sampah, permasalahan lain yang dihadapi adalah kurangnya petugas pengangkut sampah.
“Kalau sampah sudah ditempatkan di depan rumah tetapi tidak ada yang mengangkut, percuma saja. Artinya, kita butuh lebih banyak petugas pengangkut sampah. Ke depannya, kita akan berkolaborasi dengan ketua RW dan RT untuk mencari solusi, termasuk swadaya masyarakat,” terangnya.
Setelah sampah dikumpulkan, masalah lain muncul terkait pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
“Kita butuh armada pengangkut yang dapat menjangkau lingkungan-lingkungan di Cilegon. Ini menjadi bagian penting dalam memutus rantai masalah sampah,” ujarnya.
DLH Cilegon menegaskan bahwa fokus utama ke depan adalah memastikan sampah tidak lagi berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dengan adanya sistem pengangkutan yang lebih baik, sampah dapat dipilah dari sumbernya dan dikirim ke bank sampah atau TPS 3R untuk didaur ulang.
“Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah hadir untuk memfasilitasi sarana dan prasarana pengelolaan sampah di tingkat lingkungan,” katanya.
Hal senada dikatakan Walikota Cilegon, Robinsar. Ia mengakui bahwa salah satu penyebab banyaknya sampah berserakan di pinggir jalan adalah minimnya tempat sampah di sejumlah titik strategis. Ia menilai kondisi ini membuat masyarakat terpaksa membuang sampah sembarangan.
“Saya tidak ingin Kota Cilegon penuh sampah, terutama pada malam hari. Saat saya turun langsung, saya melihat bahwa memang sudah tidak ada tempat sampah. Jadi, wajar jika masyarakat membuang sampah di pinggir jalan karena tidak ada tempat yang disediakan,” terangnya.
Sebagai solusi, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon akan menyiapkan lahan khusus dan menambah bak sampah di berbagai titik agar masyarakat memiliki fasilitas pembuangan yang layak.
Selain itu, pemkot juga berencana membentuk tim khusus yang bertugas menangani sampah, banjir, dan jalan rusak.
Tim tersebut terdiri atas Pasukan Biru yang fokus pada pembersihan saluran air untuk mengatasi banjir dan Pasukan Hitam yang bertugas memperbaiki jalan rusak.
“Pasukan Biru nanti akan bekerja membersihkan kali dan saluran air setiap hari. Sementara Pasukan Hitam akan menangani perbaikan jalan-jalan rusak di dalam kota. Kalau yang di jalan provinsi, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Pemkot juga akan melengkapi sarana pendukung seperti ekskavator, mobil pengangkut sampah, serta kendaraan pembersih jalan.
Terkait anggaran, Robinsar menegaskan pihaknya akan melakukan efisiensi dengan menghapus program-program yang tidak relevan dan mengalokasikan anggaran untuk program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Ya, kita siap-siapin (anggaran). Jadi penyesuaian, makanya kita butuh nanti program yang nggak sesuai dengan visi misi kita yang kurang relevan, kurang produktif kita buang, kita ganti yang baru,” tandasnya. (LUK)



Discussion about this post