Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Warisan Sejarah Budaya Perlu Inventarisasi Pelestarian Serius

peninggalan sejarah dan situs kepurbakalaan

by Tim Redaksi
September 7, 2023
in NASIONAL, PENDIDIKAN
Tampak salah satu bangunan eks benteng pertahanan Jepang, ini berada di Pasirgeleng Desa Cilangkahan Kecamatan Malingping.

Tampak salah satu bangunan eks benteng pertahanan Jepang, ini berada di Pasirgeleng Desa Cilangkahan Kecamatan Malingping.

LEBAK, BANPOS – Soal keberadaan aset peninggalan sejarah dan situs kepurbakalaan yang berada di Lebak, perlu ada inventarisasi serius untuk dilestarikan untuk kepentingan masa depan. Selain itu, juga diperlukan untuk kajian penelitian akademik.

Seperti halnya mengemuka dalam diskusi kajian sejarah budaya lokalistik yang digelar Himpunan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Unma Banten, Rabu (6/9), bertempat di Vila Kuning, Cihara.

Baca Juga

Fadli Zon : Ahli belum Temukan Pusat Kerajaan Majapahit

Fadli Zon : Ahli belum Temukan Pusat Kerajaan Majapahit

November 26, 2025

Ketua DPRD Lebak Bikin Seniman Kecewa

Desember 29, 2023

Peringati Hari Jadi Sumedang ke-445, Djiwa Tangguh Meriahkan Kirab Mahkota & Panji 2023

Mei 15, 2023

Ketua pelaksana, Firman Habibi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai wahana menggali potensi
sejarah budaya lokal Lebak, khususnya di Lebak Selatan (Baksel) yang kini semakin kurang diperhatikan.

"Niatan kami dalam momen ini, selain tugas akademik dalam mengangkat kembali potensi sejarah
budaya yang ada di Lebak dan Baksel ini. Hal ini agar generasi muda kita faham akan jati diri sejarah
budaya lokalnya yang terjadi di masa lalu, tentunya juga untuk wahana akademik," ujarnya.

Dalam momen ini, dihadirkan pemateri dari pegiat Bantenologi dan peneliti Garda Muda Banten
(Garmuba). Keduanya menyebut, peninggalan sejarah budaya sangat urgen untuk diteliti dan
diinventarisir, karena akan bermanfaat untuk khazanah aset lokal, data sejarah dan bisa dijadikan kajian
referensi akademis.

Pegiat Bantenologi, Yadi Ahyadi, mengatakan bahwa aset peninggalan sejarah di wilayah Baksel hingga
saat ini belum terinventarisasi dengan baik. Hal ini sangat disayangkan karena aset sejarah dan situs
cagar budaya tersebut, sangat penting buat riset dan wawasan kesejarahan.

“Ada banyak peninggalan sejarah yang belum di inventarisasi secara utuh. Diharapkan pemerintah
daerah segera melakukan berbagai upaya preventif, yakni menginventarisasi setiap situs cagar budaya,
karena ini sangat penting bagi pengetahuan saat ini dan masa depan,” ujarnya.

Menurut Yadi, pihaknya beberapa waktu lalu sempat melakukan observasi di beberapa kawasan Baksel.
Tracking survey yang dilakukannya tersebut mulai bekas peninggalan yang ada, hingga wawancara
warga. Giatnya itu sebagai upaya inventarisasi kajian tentang peninggalan sejarah di kawasan tersebut.

“Kawasan di sini hingga sekarang memang belum pernah ada yang melakukan kajian penelitian sejarah
secara utuh, karena itu kami dari Bantenologi mencoba mengkaji wacana awal yang dikaitkan dengan
situasi peristiwanya," terang Yadi.

Tambahnya, hasil penelitiannya itu untuk sumbangan referensi kesejarahan Baksel yang hubungannya
dengan Kebantenan. "Di sini kami sudah banyak mengumpulkan data otentik, mulai dari masa
prasejarah, sejarah hingga zaman kolonial, tinggal nanti kita formulasikan menjadi acuan akademis di
ruang masing-masing," jelasnya.

Pemateri lain dari Garmuba, Frans Son Ghaha, menyebut bahwa hingga saat ini pihaknya mengaku
masih tengah melakukan observasi semiotika pada area dan lokasi yang diperkirakan jadi bahan
penelitian, sebagai objek cagar budaya di Baksel dan juga yang diduga batuan artefak.

Untuk yang prasejarah, kami masih melakukan penelusuran dari situs yang sudah kami inventarisir.
Seperti pada bebatuan megalitikum yang dicurigai sebagai situs purba, seperti yang di Polotot, dan
Leuweung Taman di Malingping batu luhur di Cijaku dan di kawasan pedalaman Cigemblong,” ucapnya.

Selain itu, kata Frans, juga observasi yang dilakukan di Sawarna, Bayah, Cibobos Kecamatan Cihara dan
Cibeber. "Termasuk bebatuan di Sawarna, Cibobos kita lakukan tracking, juga pada situs purbakala
Cibedug di Cibeber.

Metode landasan awalnya kami hubungkan dengan cerita rakyat setempat dan
dikaitkan dengan karakteristik daerah itu. Dan untuk artefak megalitikumnya kita bantu lakukan uji
karbon,tuturnya. (WDO/DZH)

Tags: Batu SejarahbudayaCandiSejarah Perbudayaan
ShareTweetSend

Berita Terkait

Fadli Zon : Ahli belum Temukan Pusat Kerajaan Majapahit
NASIONAL

Fadli Zon : Ahli belum Temukan Pusat Kerajaan Majapahit

November 26, 2025
PERISTIWA

Ketua DPRD Lebak Bikin Seniman Kecewa

Desember 29, 2023
PERISTIWA

Peringati Hari Jadi Sumedang ke-445, Djiwa Tangguh Meriahkan Kirab Mahkota & Panji 2023

Mei 15, 2023
Next Post
Petugas Lapas mendampingi WBP dalam menggunakan Silay Madani

SILAY Madani Permudah Akses Informasi

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh