WALANTAKA, BANPOS – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten terus memperkuat kapasitas relawan yang menjadi amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. Salah satunya menggelar Temu Karya Relawan (TKR) III yang digelar di Bumi Perkemahan Lebakwangi, Walantaka, Kota Serang, Kamis-Minggu (1-4/12).
“TKR merupakan ajang pertemuan relawan PMI terbesar di Provinsi Banten yang diselenggarakan setiap lima tahunan atau 1 periode kepengurusan. Kegiatan ini bertujuan untuk sinergitas, pembinaan, silaturahmi, dan peningkatan kapasitas para relawan,” kata Suparman, Ketua Panitia TKR III PMI Banten melalui keterangan tertulis, Minggu (4/12/2022).
Sebelumnya, kata Suparman, PMI Banten telah menggelar TKR pada pada tahun 2014 dan 2017. Pada tahun ini, merupakan pelaksanaan TKR ketiga yang diikuti oleh 434 relawan dari delapan PMI kabupaten/kota se-Banten. “Peningkatan kapasitas relawan PMI diperkuat dari sisi profesionalitas, jiwa sosial, serta tanggap dalam kedaruratan bencana,” ujar Ketua Bidang Relawan PMI Banten ini.
TKR juga merupakan tindaklanjut kegiatan sebelumnya, yakni Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat Bencana, dengan metode Simulasi Tanggap Darurat Bencana Tingkat Provinsi Banten.
“Sejumlah kegiatan yang dilaksanakan antara lain, pengobatan gratis, bakti sosial lingkungan, penanaman phon, sosialisasi siaga bencana pondok pesantren, sosialisasi pengurangan risiko bencana, dan pembentukan Sibat Walantaka,’ ujar Suparman.
Sementara itu, Ketua PMI Provinsi Banten Ratu Tatu Chasanah menyatakan, pembinaan relawan merupakan amanat UU No.1 Tahun 2018 yang wajib dilaksanakan PMI.
“Terutama peningkatan kapasitas relawan dalam penanggulangan bencana. Insya Allah, relawan PMI Banten selalu siaga, siap membantu, tangguh, dan semakin profesional,” ujarnya.
Sejalan dengan program kerja PMI Banten, kata Tatu, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperkuat sumber daya manusia PMI di Banten. Antara lain, pelatihan manajemen markas, pelatihan perencanaan monitoring evaluasi dan reporting (PMER), pelatihan teknis psikososial support program (PSP), pelatihan teknis logistik, pelatihan fasilitator PMR, serta pelatihan manajemen tanggap darurat bencana sebanyak tiga angkatan.
Discussion about this post